Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Belasan Ribu Warga Sipil Larikan Diri dari Idlib

Kamis 19 Dec 2019 10:15 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Christiyaningsih

Warga melihat reruntuhan rumah di Desa Barisha, Idlib, Suriah setelah operasi militer AS yang menargetkan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi, Ahad (27/10). Belasan ribu orang sipil dipaksa tinggalkan kawasan yang harusnya jadi zona gencatan senjata. Ilustrasi.

Warga melihat reruntuhan rumah di Desa Barisha, Idlib, Suriah setelah operasi militer AS yang menargetkan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi, Ahad (27/10). Belasan ribu orang sipil dipaksa tinggalkan kawasan yang harusnya jadi zona gencatan senjata. Ilustrasi.

Foto: AP Photo/Ghaith Alsayed
Belasan ribu orang sipil dipaksa tinggalkan kawasan yang harusnya jadi zona gencatan

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Sebanyak 12 ribu warga sipil melarikan diri dari serangan rezim Suriah di bawah kepemimpinan Bashar al-Assad dan sekutu-sekutunya. Belasan ribu orang sipil telah dipaksa untuk meninggalkan kawasan yang seharusnya menjadi zona gencatan senjata di Suriah barat laut dan menuju perbatasan Turki.

Direktur Tim Koordinator Respons Mohamed al-Hallaj kepada Anadolu Agency mengatakan bahwa rezim Assad, Rusia, dan kelompok-kelompok teror asing yang didukung Iran telah menyerang permukiman sipil dalam 24 jam terakhir. Distrik Marratinnuman selatan, yang terletak di timur kota Idlib, menghadapi tingkat migrasi tertinggi.

Keluarga yang melarikan diri sangat membutuhkan barang-barang seperti tempat tinggal, selimut, tempat tidur, dan tenda. Al-Hallaj juga menyatakan bahwa sebanyak 110 ribu warga sipil telah dipaksa untuk meninggalkan Idlib sejak November karena serangan intensif. "Warga sipil, kebanyakan dari mereka anak-anak dan perempuan, mencari perlindungan di bawah pohon zaitun," katanya.

Dia berpendapat bahwa rezim sengaja menyerang sekolah, rumah sakit, masjid, dan pusat pertahanan sipil untuk mencegah warga sipil kembali ke rumah. Setidaknya ada empat agresi yang terjadi pada Desember ini. Pertama pada 2 Desember yaitu serangan udara menghantam dua pasar di Idlib, menyebabkan 14 warga sipil tewas.

Kemudian pada 7 Desember jet rezim Assad dan Rusia menyerang Idlib lagi. Setidaknya 19 warga sipil tewas. Pada 15 Desember, satu anak terbunuh dan tujuh orang terluka dalam serangan udara rezim. Lalu pada 16 Desember serangan udara Rusia merenggut nyawa lima warga sipil di Idlib, termasuk tiga anak dan dua wanita.

Menurut pemerintah setempat, Idlib adalah rumah bagi sekitar 2,4 juta penduduk setempat dan 1,3 juta orang terlantar secara internal. Jika agresi oleh rezim dan sekutu-sekutunya berlanjut, baik Turki dan benua Eropa menghadapi risiko masuknya pengungsi lain.

Sejak Moskow dan Ankara mencapai kesepakatan pada September 2018 di mana tindakan agresi di Idlib seharusnya dilarang, lebih dari 1.300 warga sipil telah terbunuh di zona eskalasi Idlib. Lebih dari satu juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki setelah serangan hebat. Sejak meletusnya perang saudara berdarah di Suriah pada 2011, Turki telah mengambil alih lebih dari 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA