Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Jejak Teror di Burkina Faso

Kamis 26 Dec 2019 07:45 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Pemakaman korban teror di Burkina Faso. Kekerasan telah menyebar ke seluruh Sahel, terutama Burkina Faso dan Niger sejak 2012. Ilustrasi.

Pemakaman korban teror di Burkina Faso. Kekerasan telah menyebar ke seluruh Sahel, terutama Burkina Faso dan Niger sejak 2012. Ilustrasi.

Foto: STR/EPA
Kekerasan telah menyebar ke seluruh Sahel, terutama Burkina Faso dan Niger sejak 2012

REPUBLIKA.CO.ID, OUAGADOUGOU -- Sebuah serangan di Burkina Faso telah menewaskan 35 warga sipil yang sebagian besar adalah wanita. Ini merupakan salah satu serangan paling mematikan yang menghantam negara Afrika Barat dalam lima tahun terakhir.

Serangan ganda terjadi pada Selasa (24/12) di salah satu pangkalan militer dan kota Arbinda di Provinsi Soum. Serangan ini menewaskan tujuh tentara dan 80 orang dari kelompok bersenjata. Kelompok besar teroris secara serentak menyerang pangkalan militer dan penduduk sipil di Arbinda.

"Tindakan heroik tentara kami telah menewaskan 80 orang teroris. Serangan biadab ini mengakibatkan 35 kematian warga sipil, kebanyakan dari mereka adalah wanita," ujar Presiden Burkina Faso Roch Marc Christian Kabore dilansir Aljazirah.

Kekerasan telah menyebar ke seluruh Sahel, terutama Burkina Faso dan Niger sejak 2012, ketika para pemberontak melakukan serangan di Mali utara. Wilayah Sahel terletak di selatan Gurun Sahara dan membentang melintasi luasnya benua Afrika.

Para pemimpin negara-negara G5 mengadakan pembicaraan puncak di Niger awal bulan ini. Mereka menyerukan kerjasama yang lebih erat dan dukungan internasional terhadap serangan. Kelompok G5 terdiri dari Chad, Burkina Faso, Mali, Mauritania, dan Niger. Mereka mendapatkan dukungan dari pasukan Prancis serta PBB di Mali.

Menurut data PBB, di Burkina Faso lebih dari 700 orang telah tewas sejak 2015. Sekitar 560 ribu orang saat ini mengungsi secara internal. Serangan biasanya dilakukan di bagian utara dan timur Burkina Faso. Selain itu, ibu kota Ouagadougou telah menjadi target serangan sebanyak tiga kali.

Sebelum serangan hari Selasa, pasukan keamanan Burkina Faso mengatakan mereka telah menumpas sekitar 100 orang bersenjata dalam beberapa operasi sejak November. Diketahui, pada November, terjadi serangan terhadap konvoi yang mengangkut karyawan perusahaan tambang Kanada dan menewaskan 37 orang.

Serangan-serangan telah meningkat tahun ini, ketika tentara Burkina Faso yang tidak memiliki perlengkapan dan kurang terlatih berjuang untuk mengatasi kekerasan. "Mereka (kelompok bersenjata) akan terus menyerang dan merekrut orang-orang karena pasukan keamanan di Burkina sendiri telah melakukan beberapa kekejaman," ujar profesor bidang ilmu politik dan hubungan internasional di George Washington University's Elliott School, William Lawrence.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA