Kamis 02 Jan 2020 17:58 WIB

Iran Gertak AS dengan Ancaman Perang

Komandan Garda Revolusi Iran mengisyaratkan Iran siap membuka konfrontasi militer

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Komandan Garda Revolusi Iran mengisyaratkan Iran siap membuka konfrontasi militer. Ilustrasi.
Foto: EPA
Komandan Garda Revolusi Iran mengisyaratkan Iran siap membuka konfrontasi militer. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Komandan Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Hossein Salami mengkritik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menuding negaranya mendalangi aksi demonstrasi serta kerusuhan di Irak. Dia mengisyaratkan Iran siap membuka konfrontasi militer dengan Washington.

"Kami tidak memimpin negara ini menuju perang, tapi kami tidak takut perang apapun dan kami memberi tahu Amerika untuk berbicara dengan benar dengan bangsa Iran. Kami memiliki kekuatan untuk menghancurkan mereka beberapa kali dan tidak khawatir," ujar Salami pada Kamis (2/1).

Baca Juga

Situasi di Irak terutama Baghdad memang masih bergolak. Hal itu terjadi setelah massa pendemo melempari Kedutaan Besar AS dengan batu dan membakar pos keamanannya.

Aksi penyerangan terhadap gedung kedutaan itu terjadi setelah pasukan AS melancarkan operasi udara dan membidik paramiliter Syiah Irak, Kataib Hizbullah. Ia merupakan bagian dari Popular Mobilization Forces (PMF) yang didukung Iran.

Trump memang menuding Iran sebagai dalang di balik aksi penyerangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad. Dia bahkan sempat mengancam akan melakukan aksi balasan. Namun belakangan Trump membantah bahwa dia menghendaki perang dengan Teheran.

"Apakah saya mau (berperang)? Tidak, saya ingin damai. Saya suka kedamaian. Iran juga seharusnya menginginkan kedamaian lebih dari siapapun," kata Trump.

Aksi demonstrasi di Irak pecah pada 1 Oktober lalu. Masyarakat turun ke jalan untuk memprotes permasalahan yang mereka hadapi seperti meningkatnya pengangguran, akses terhadap layanan dasar, termasuk air dan listrik yang terbatas, serta masifnya praktik korupsi di tubuh pemerintahan.

Demonstrasi telah menyebabkan Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi mengundurkan diri dari jabatannya. Parlemen Irak telah menyetujui pengunduran dirinya pada Desember lalu. Lebih dari 400 orang telah dilaporkan tewas selama unjuk rasa berlangsung sejak Oktober lalu.

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement