Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Iran Siap Bertahan dalam Kesepakatan Nuklir

Selasa 07 Jan 2020 19:34 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Iran Siap Bertahan dalam Kesepakatan Nuklir. Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Iran Siap Bertahan dalam Kesepakatan Nuklir. Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Foto: Reuters/ISNA/Hamid Forootan/Files
Iran sempat menyatakan tidak akan lagi terikat pada kesepakatan nuklir 2015.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemerintah Iran menyatakan siap bertahan dalam kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Sebelumnya, Iran sempat menyatakan tidak akan lagi terikat pada JCPOA setelah terbunuhnya Komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

"Langkah kelima pemulihan Iran mengurangi komitmen terhadap perjanjian nuklir Juli 2015 tidak berarti kesepakatan itu telah berakhir atau Iran ingin menarik diri darinya. Itu hanya berarti kami telah mencapai keseimbangan yang wajar di JCPOA," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Selasa (7/1), dikutip Anadolu Agency.

Dia mengatakan Iran tetap bisa bertahan dalam JCPOA. "Jika pihak lain tetap  berkomitmen pada ketentuan-ketentuannya," ujar Araqchi.

Sejak serangan udara AS ke Bandara Internasional Baghdad dan menewaskan Qassem Soleimani, Iran menyatakan tak akan lagi terikat pada komitmen JCPOA. Hal itu merupakan isyarat Teheran akan melanjutkan aktivitas pengayaan uraniumnya.

Selama ini Eropa, termasuk AS, telah berusaha keras mencegah Iran mengembangkan dan memiliki senjata nuklir. Pada Juli lalu, Iran mengumumkan telah melakukan pengayaan uranium melampaui ketentuan yang ditetapkan JCPOA sebesar 3,67 persen. Teheran mengklaim saat ini pengayaan uraniumnya telah mencapai lebih dari 4,5 persen

Iran mengatakan level pengayaan itu memang masih sangat jauh dari yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir. Namun, ia siap melanjutkan aktivitas pengayaan uraniumnya jika perekonomiannya masih dijerat sanksi AS.

AS diketahui telah hengkang dari JCPOA pada Mei 2018. Setelah keluar, Presiden AS  Donald Trump memutuskan menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Mundurnya AS membuat JCPOA goyah dan terancam bubar.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA