Ahad 12 Jan 2020 09:23 WIB

Bom di Kandahar Kenai Tentara Amerika

Taliban mengklaim ledakan itu dan dikatakan menewaskan seluruh tentara di kendaraan.

Mobil sekutu terkena bom pinggir jalan yang dipasang pejuang Taliban, ilustrasi
Mobil sekutu terkena bom pinggir jalan yang dipasang pejuang Taliban, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KANDAHAR -- Ledakan bom yang berlokasi dari tepi jalan mengenai satu rombongan tentara Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (11/1) di provinsi bagian selatan Afghanistan, Kandahar. Menurut juru bicara NATO dan seorang pejabat Afghan, belum ada penjelasan detail atas para korban dalam ledakan yang diakui oleh pasukan Taliban.

Saat itu, tengah berlangsung musim dingin yang hening dengan hujan salju yang deras di beberapa pegunungan. Sejumlah pegunungan itulah tempat para anggota kelompok Taliban Islam dan menyusun kembali tekanan mereka.

Biasanya, Taliban melakukan serangan pada setiap musim semi. Ternyata, ledakan-ledakan bom berlanjut untuk memukul kekuatan Afghanistan dan kekuatan para sekutu asingnya.

Seorang pejabat senior militer Afghanistan di Kandahar mengatakan, peristiwa ledakan itu berlokasi di Distrik Dand. Ledakan itu mengena ke salah satu kendaraan bersenjata dari pasukan AS. Dia menyebutkan, pasukan asing menjaga kawasan tersebut dan mengusir kekuatan militer Afghanistan dari sekitarnya.

Juru bicara NATO mengatakan, mereka memperkirakan perkembangan yang ada, namun menolak untuk memberikan penjelasan perinci.

Juru bicara Talibat Qari Yousuf Ahmadi mengeklaim pihaknya bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dia mengatakan, Talibanlah yang menyulut ledakan yang menewaskan semua tentara dalam kendaraan bersenjata itu.

Seperti biasa, Taliban mengeklaim aksinya itu telah menelan korban jiwa dan melambungkan rencananyalah yang menargetkan Afghanistan dan tentara asing.

Puluhan ribu warga Afghanistan, pasukan keamanan, dan sekitar 2.400 personel militer AS ter bunuh dalam peperangan sejak 2001. Saat itu, penguasa yang keras dari Taliban digulingkan oleh AS dan kekuatan koalisi. (reuters, ed dewi mardiani )

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement