Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Thursday, 7 Safar 1442 / 24 September 2020

Sejarah Hari Ini: Irak Dibom Sekutu

Senin 13 Jan 2020 11:50 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Pada 13 Januari 1993, jet tempur sekutu melakukan serangkaian serangan bom di Irak. Ilustrasi.

Pada 13 Januari 1993, jet tempur sekutu melakukan serangkaian serangan bom di Irak. Ilustrasi.

Foto: Syrian Civil Defense White Helmets via AP, File
Pada 13 Januari 1993, jet tempur sekutu melakukan serangkaian serangan bom di Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Pada 13 Januari 1993, jet tempur sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis melakukan serangkaian serangan bom di selatan Irak. Serangan berlangsung pada malam hari yang dipimpin oleh pengebom tempur siluman AS yang berbasis di Arab Saudi.

Dilansir BBC History, Irak telah berulang kali melanggar 'zona larangan terbang' yang didirikan setelah Perang Teluk. Irak juga melakukan sejumlah serangan militer di perbatasan ke Kuwait.

Serangan 13 Januari dilakukan Sekutu dari Perang Teluk menargetkan lokasi rudal dan pangkalan komando dan kontrol pesawat Irak. Pesawat-pesawat juga dikerahkan dari kapal induk AS di Teluk dan pengebom Inggris serta jet fatamorgana Prancis bergabung dalam serangan itu. Laporan awal menyatakan misi itu berhasil dan tidak ada korban dari sekutu.

Duta Besar Irak untuk PBB Nizar Hamdoon mengatakan, penggerebekan ke Kuwait akan berhenti. Juru bicara Gedung Putih kala itu, Marlin Fitzwater, mengatakan, Pemerintah Irak harus memahami bahwa penolakan terus-menerus terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB tidak akan ditoleransi.

"Jika serangan lintas perbatasan berlanjut, akan ada serangan lebih lanjut tanpa peringatan," ujar Fitzwater.

Perdana menteri Inggris kala itu, John Mayor, menyebut tindakan sekutu sebagai tindakan yang terbatas dan proporsional. Dia mengatakan serangan menandakan bahwa pesawat-pesawat Inggris sekali lagi dapat beroperasi dengan aman di zona larangan terbang.

Wartawan BBC di Baghdad, Michael Macmillan, mengatakan, serangan udara kemungkinan akan memperkuat dukungan untuk Saddam Hussein. Sanksi diberlakukan sejak Perang Teluk melanda dan rakyat Irak mendukung pembangkangannya terhadap Barat.

Serangan udara terhadap Irak tidak lagi dilakukan. Namun, hubungan antara kedua belah pihak tetap tegang.

Pada Juni 1993, pasukan AS melancarkan serangan rudal ke markas intelijen Irak di distrik Al-Mansur, Baghdad sebagai pembalasan atas percobaan pembunuhan Presiden AS George Bush pada April. Pada November 1994, Irak secara resmi menerima demarkasi perbatasan dengan Kuwait sebagaimana ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB.

Pada Maret 2003, putra George Bush, George W. Bush, melancarkan serangan terhadap Irak terlepas dari pertentangan seluruh dunia terhadap perang. Dalam sebulan, Presiden Bush mengklaim kemenangan, tapi tidak ada tanda-tanda senjata pemusnah massal yang dia klaim akan coba disingkirkan.

Saddam Hussein ditangkap pada 2003 setelah beberapa bulan bersembunyi. Dia diadili di pengadilan Irak, dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada Desember 2006. Kekuasaan secara resmi diserahkan kembali ke Irak oleh AS pada 28 Juni 2004.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA