Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Ilmuwan Iklim: Kebakaran Besar Australia Bisa Jadi Rutin

Selasa 14 Jan 2020 15:29 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Kanguru tampak di kawasan semak hutan Australia dengan langit oranye akibat kebakaran hutan di sekitar Canberra, Australia, (5/1).

Kanguru tampak di kawasan semak hutan Australia dengan langit oranye akibat kebakaran hutan di sekitar Canberra, Australia, (5/1).

Foto: EPA
Peristiwa itu dapat terjadi kecuali masyarakat bergerak kurangi emisi gas rumah kaca.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kebakaran hutan yang melanda Australia telah memberikan petunjuk bahwa kondisi semacam itu dapat menjadi sesuatu yang normal kecuali masyarakat dunia bergerak cepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Hal itu diungkapkan para ilmuwan.

Walaupun pemerintah dan beberapa media Australia telah mencoba untuk mengecilkan andil manusia dalam perubahan iklim yang membuat Australia menjadi lebih rentan terhadap kebakaran hutan, lebih dari 57 makalah ilmiah yang diterbitkan sejak 2013 menemukan kaitan yang jelas antara peran manusia dan perubahan iklim.

"Kita tidak akan membalikkan perubahan iklim pada rentang waktu yang sebentar. Jadi, kondisi yang terjadi sekarang tidak akan hilang begitu saja," ujar Richard Betts, Kepala Riset Dampak Iklim dari Met Office Hadley Center Inggris.

Betts, yang turut menulis ulasan tentang kaitan antara peran manusia dengan perubahan iklim, menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi di London pada Senin.

Ulasan tersebut menemukan bahwa perubahan iklim telah menuju ke peningkatan frekuensi dan keparahan -- dari apa yang disebut ilmuwan sebagai -- "Cuaca Kebakaran", yakni periode dengan suatu risiko kebakaran yang tinggi disebabkan beberapa kombinasi dari suhu yang semakin panas, kelembaban yang rendah, rendahnya hujan, dan besarnya angin.

Berbagai dampak dari perubahan iklim tersebut tidak hanya ditemukan di Australia, tetapi juga di Amerika Serikat bagian barat dan Kanada hingga ke bagian selatan Eropa, Skandinavia, Amazon dan Siberia, demikian temuan dari ulasan tersebut.

Secara global, musim cuaca kebakaran sudah meluas ke sekitar 25 persen dari permukaan bumi, dan menghasilkan sekitar 20 persen kenaikan dalam rata-rata rentang waktu musim cuaca kebakaran, berdasarkan dari data observasi.

Betts mengatakan bahwa Australia sangat rentan terhadap kebakaran karena wilayah negara itu telah memanas lebih dari kenaikan suhu global, yakni sekitar satu derajat celcius, sejak masa pra-industri.

Organisiasi Meteorologi Dunia menyatakan bahwa suhu global yang terus meningkat dapat mencapai 3 hingga 5 derajat celcius pada abad ini -- atau lebih dari tiga kali batas suhu yang disetujui dalam Perjanjian Iklim Paris 2015 -- jika masyarakat dunia tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan kenaikan emisi.

"Kondisi suhu di Australia sedang ekstrem saat ini, tetapi itu adalah hal yang kami sudah perkirakan akan terjadi di dalam dunia yang mengalami peningkatan tiga derajat pemanasan global," ujar Betts. "Hal ini mengingatkan kalian pada apa arti dari perubahan iklim," lanjutnya.

Ulasan tersebut dilakukan memakai ScienceBrief.org, yaitu suatu panel riset online yang baru dibentuk oleh University of East Anglia and Tyndall Centre for Climate Change Research di Inggris.

Setidaknya sekitar 28 orang terbunuh dalam kebakaran di Australia yang telah menghancurkan sekitar 2.000 rumah dan membakar 11,2 miliar hektare lahan, atau hampir setengah dari wilayah Inggris.

Setelah selama beberapa pekan mendapat kritik mengenai cara menghadapi krisis, Perdana Menteri Scott Morrison pada Ahad (12/1) mengatakan bahwa ia akan melakukan pemeriksaan tingkat tinggi untuk bencana, termasuk dampak dari perubahan iklim.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA