Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Cina: Penyatuan Taiwan tak Bisa Dihindari

Selasa 14 Jan 2020 15:53 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Foto: AP Photo/Chiang Ying-ying
Tsai Ing-wen menang dalam pemilu Taiwan pekan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan penyatuan kembali Taiwan dengan Cina daratan adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Pernyataan itu merespons kemenangan Tsai Ing-wen dalam pemilu Taiwan pekan lalu. Tsai adalah kandidat presiden dari Democratic Progressive Party  (DPP) yang pro-kemerdekaan.

"(Prinsip satu Cina) tidak akan berubah dengan cara apa pun karena pemilu lokal di pulau Taiwan, juga tidak akan goyah meskipun pernyataan dan tindakan yang salah oleh beberapa politisi Barat," kata Wang pada Senin (13/1), dikutip laman South China Morning Post.

Wang memang memprotes para pejabat senior Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Jepang karena memberi selamat kepada Tsai atas kemenangannya dalam pemilu. Dia mendesak masyarakat internasional untuk tetap berpegang pada "satu Cina" dan menahan diri untuk menjalin komunikasi resmi dengan para pemimpin Taiwan.

Baca Juga

"Peremajaan bangsa Cina dan penyatuan kembali di selat (Taiwan) tidak bisa dihindari. Melawan tren ini pasti akan menemui jalan buntu," ujar Wang.

DPP memenangkan pemiluu Taiwan dengan perolehan suara 57 persen. Dalam pidato kemenangannya, Tsai mengatakan bahwa dia tidak akan berusaha memprovokasi daratan Cina dalam empat tahun ke depan. Taiwan, kata Tsai, ingin menjadi mitra bagi tetangganya, bukan sebaliknya.

Kendati demikian media pemerintah Cina tetap mencibir kemenangan Tsai. Mereka menyebut kekalahan partai Kuomintang dalam pemilu Taiwan terjadi karena taktik kotor DPP. Media Xinhua bahkan menyebut pemilu Taiwan pekan lalu bukan pemilu normal. Ia mengatakan ada kekuatan gelap eksternal yang mempengaruhi hasilnya.

Cina telah berulang kali menyatakan bahwa penyatuan kembali Taiwan merupakan kepentingan nasional terbesarnya. Beijing kerap melakukan provokasi dengan menggelar latihan militer atau mengerahkan kapal perang ke dekat pulau tersebut. Namun Taiwan tak pernah ciut menghadapi provokasi Cina.

Hubungan antara Cina dan Taiwan memang kerap memanas. Hal itu karena Beijing memandang Taipei sebagai provinsi yang memberontak. Cina telah sering memberi tekanan kepada Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Tsai dituding memiliki misi untuk mendorong kemerdekaan resmi Taiwan. Cina pun geram atas dukungan yang diberikan Tsai untuk aksi demonstrasi Hong Kong. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA