Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Survei: Pengaruh China Guncang Asia Tenggara

Kamis 16 Jan 2020 08:46 WIB

Rep: Febryan. A/ Red: Nur Aini

Bendera Cina.

Bendera Cina.

Foto: ABC News
Pengaruh AS di Asia Tenggara dilaporkan turun.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Survei terbaru menunjukkan adanya kekhawatiran besar terkait meningkatnya pengaruh ekonomi dan politik China di Asia Tenggara. Sedangkan, pengaruh Amerika Serikat (AS) dinilai menurun di kawasan.

Baca Juga

Demikian hasil survei terhadap pejabat, akademisi, dan profesional di Asia Tenggara yang dipublikasikan pada Rabu (15/1). Survei Negara Asia Tenggara itu dikerjakan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute yang berbasis di Singapura.

Dilansir Reuters, survei itu melibatkan 1.300 responden. 60 persen di antaranya tidak memercayai China. Jumlah itu naik dibandingkan pada 2019 yang berada di angka 52 persen. 

Hampir 40 persen responden berpikir China adalah "kekuatan revisionis dan berniat untuk mengubah Asia Tenggara menjadi ruang lingkup pengaruhnya."

"Kekhawatiran kawasan ini atas pengaruh China yang substansial dan masih terus berkembang berasal dari ketidakpastian cara China menggunakan kekuatannya yang sangat besar," kata Tang Siew Mun dari ISEAS-Yusof Ishak Institute.

Mun mengatakan, keangkuhan China di Laut China Selatan dan kegemaran Beijing untuk menjadikan perdagangan sebagai senjata sudah cukup untuk menimbulkan kekhawatiran bahwa Negeri Tirai Bambu itu bangkit tidak dengan cara damai sebagaimana seharusnya. Adapun responden yang paling tidak memercayai China adalah mereka yang berasal dari Vietnam dan Filipina. Kedua negara itu dalam beberapa tahun terakhir terlibat dalam konflik dengan China soal klaim laut China Selatan.

Survei itu juga mendapati bahwa hampir 80 persen responden (kebanyakan berasal dari kantor publik, akademisi, dan lembaga think tank), memilih China sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh, naik dari 73 persen pada 2019. Sekitar 52 persen mengatakan China adalah kekuatan politik dan strategis paling penting, naik dari 45 persen. Namun, sebagian besar dari responden megaku khawatir dengan semakin berkembangnya pengaruh China.

Survei itu juga menemukan bahwa responden menunjukkan keprihatinan terhadap sejumlah isu lain. Hal itu seperti dugaan penganiayaan Cina terhadap Muslim di Xinjiang, penanganan protes pro-demokrasi di Hong Kong, dan penggunaan kekuatan ekonominya.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa isu penting menurut responden adalah masa depan jaringan 5G, Huawei HWT.UL dan perusahaan telekomunikasi China lainnya. Perusahaan telekomunikasi China dianggap taruhan yang lebih baik daripada saingan mereka di AS, meskipun Washington menuduh peralatan Huawei dapat digunakan untuk memata-matai.

Terkait jaringan seluler 5G, 40 persen responden lebih menyukai produsen Korea Selatan, Samsung. Meski demikian, Huawei dan perusahaan China lainnya lebih disukai daripada pemasok Eropa atau AS. Perusahaan-perusahaan China menempati posisi teratas di Laos, Kamboja, dan Malaysia.

Sementara itu, responden yang memilih AS sebagai kekuatan politik utama di Asia Tenggara turun menjadi 27 persen dari angka tahun lalu sebesar 31 persen. Sedangkan, untuk kekuatan ekonomi AS di kawasan, angkanya sama dengan tahun lalu yakni 8 persen. Bahkan, lebih dari tiga perempat responden mengatakan keterlibatan AS dengan Asia Tenggara menurun di bawah Trump dibandingkan dengan era Barack Obama.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA