Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Azerbaijan Mengenang Peristiwa Januari Hitam

Sabtu 18 Jan 2020 20:28 WIB

Red: Nidia Zuraya

Peristiwa Januari Hitam ( 20Januari 1990) di Baku.

Peristiwa Januari Hitam ( 20Januari 1990) di Baku.

Foto: wikipedia.com
Tahun ini merupakan peringatan ke-30 peristiwa Januari Hitam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam peringatan tiga dekade peristiwa pembunuhan ratusan orang Azerbaijan oleh Tentara Soviet yang dikenal sebagai 'Januari Hitam' (Black January), pemerintah Azerbaijan ingin menurunkan ingatan tentang sejarah penting negara itu. Peristiwa 'Januari Hitam' diperingati setiap tanggal 20 Januari.

Tahun ini merupakan peringatan ke-30 sejak apa yang disebut Azerbaijan sebagai pembantaian di ibu kota Baku dan beberapa kota lain itu terjadi pada 1990 silam.

"Pada tahun istimewa ini, kami ingin menyebarkan informasi mengenai sejarah Azrbaijan, khususnya kepada generasi muda, agar apa yang terjadi tidak dilupakan begitu saja," kata Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia Jalal Mirzayev di Jakarta, Sabtu (18/1).

Menurut catatan sejarah Azerbaijan, 'Januari Hitam' dipicu oleh pergerakan kemerdekaan rakyat negara itu dari Uni Soviet serta perselisihan atas kepemilikan wilayah dengan Armenia yang membuat sekitar 300 ribu orang Azerbaijan terusir dari tanah mereka pada 1988.

Mulai satu tahun setelah pengusiran, masyarakat Azerbaijan menggelar unjuk rasa di jalanan kota Baku untuk memprotes klaim wilayah oleh Armenia. Hingga pada 13 Januari 1990, pemimpin unjuk rasa menyerukan referendum untuk memisahkan diri dari Uni Soviet.

Merespon unjuk rasa itu, masih menurut sumber catatan sejarah Azerbaijan, pemerintah Uni Soviet menurunkan pasukan militer untuk melakukan intervensi terhadap keadaan di Baku. Bahkan Uni Soviet memberlakukan jam malam satu hari sebelum 'Januari Hitam' terjadi.

Pemerintah Azerbaijan sendiri menganggap intervensi militer tersebut merupakan yang paling mengerikan dibandingkan beberapa operasi pasukan Tentara Soviet lainnya, yakni di Almaty pada 1986, di Tbilisi pada 1989, serta di Vilnius pada 1991.

Ketika peristiwa 'Januari Hitam' pecah pada 20 Januari tengah malam, 147 orang masyarakat sipil pengunjuk rasa menjadi korban tewas sementara sekitar 800 orang lainnya terluka. "Tentu peristiwa ini merupakan sejarah yang tragis, namun juga tidak bisa dilepaskan dari aksi kepahlawanan rakyat Azerbaijan untuk memperoleh kemerdekaan," ujar Mirzayev.

Satu tahun selepas peristiwa berdarah tersebut, yakni pada 1991, Azerbaijan mengumumkan kemerdekaannya, disusul kemudian dengan pembubaran Uni Soviet di tahun yang sama.


Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA