Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Inggris Incar Afrika Jadi Mitra Dagang Setelah Brexit

Senin 20 Jan 2020 19:52 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Foto: AP Photo/Matt Dunham
Inggris akan meninggalkan Uni Eropa atau Brexit pada 31 Januari.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan negaranya adalah mitra dagang ideal bagi negara-negara Afrika. Menjelang keluarnya Brexit, Inggris mengincar Afrika sebagai mitra dagang mereka.

Baca Juga

Tapi Inggris akan menghadapi tantangan berat di benua tersebut. Pertumbuhan ekonomi di beberapa negara Afrika menjadi yang tercepat di dunia. Populasi muda mereka yang sebanyak 1,2 miliar jiwa juga akan naik dua kali lipat pada 2050.

Sangat sedikit kepala pemerintahan 54 negara Afrika yang menghadiri Pertemuan Investasi Inggris-Afrika yang pertama di London. Sementara, puluhan kepala negara menghadiri pertemuan pertama Rusia-Afrika tahun lalu atau pertemuan dengan China yang dilakukan secara rutin.

Departemen perdagangan internasional Inggris mengatakan perdagangan dua arah dengan Afrika pada tahun ini yang berakhir pada kuartal kedua 2019 mencapai 46 miliar dolar AS. Sementara perdagangan dua arah dengan Cina pada tahun 2019 mencapai 208 miliar dolar AS.

Kepada hadirin konferensi tersebut, Johnson mengatakan pertemuan itu 'sudah lama tertunda'. Ia menyadari pemerintah dan perusahaan Inggris harus bekerja lebih keras agar negara-negara Afrika bersedia bekerja sama dengan mereka.

"Kami tidak memiliki hak istimewa untuk melakukan bisnis, ini dunia yang kompetitif, Anda mungkin memiliki banyak pengunjung," kata Johnson, Senin (20/1).

Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari mendatang. Johnson mengatakan setelah Brexit, Inggris akan 'bebas berdagangan dengan seluruh dunia'.

Ia berjanji sistem imigrasi paska Brexit akan 'mengutamakan orang dibandingkan paspor'. Sesuatu yang sudah lama membuat orang Afrika frustasi.

Sementara kekuatan-kekuatan dunia termasuk negara-negara Teluk Arab dan India juga meningkatkan kehadiran diplomatik dan ekonomi di Afrika. Beberapa pengamat mempertanyakan tentang kepentingan Inggris.

Ketika Theresa May mengunjungi Kenya pada 2018 lalu. Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mencatat itu pertama kalinya  perdana menteri Inggris melakukan kunjungan ekonomi ke Afrika Timur selama lebih dari tiga puluh tahun.

Inggris mengatakan sebanyak 16 pemimpin negara Afrika menghadiri pertemuan di London tersebut. Antara pemimpin-pemimpin Nigeria, Kongo, Kenya, Mesir, Ghana dan Rwanda.

Dua perekonomian terbesar di Afrika yakni Afrika Selatan dan Nigeria sedang lesu. Tapi perekonomian Afrika menunjukkan momentumnya karena mereka baru saja meluncurkan African Continental Free Trade Area.  

Pada pekan lalu, PBB merilis laporan tahunan World Economic Situation and Prospects 2020. Dalam laporan itu disebutkan kecuali Afrika pada tahun lalu pertumbuhan ekonomi di seluruh kawasan mengalami perlambatan.  

PBB mengatakan pertumbuhan PDB Afrika diperkirakan akan mencapai 3,2 persen pada tahun 2020 dan 3,5 persen pada 2021. Tahun ini, 25 negara Afrika diprediksi akan meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA