Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Wabah Virus Corona, Masker Terjual Habis di China

Rabu 22 Jan 2020 08:22 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nora Azizah

AP melaporkan, Rabu (22/1), merek masker 3M terjual habis di toko daring resminya di platform e-commerce Taobao dan JD.com pada Selasa (21/1) sore (Foto: warga Wuhan gunakan masker ke luar rumah)

AP melaporkan, Rabu (22/1), merek masker 3M terjual habis di toko daring resminya di platform e-commerce Taobao dan JD.com pada Selasa (21/1) sore (Foto: warga Wuhan gunakan masker ke luar rumah)

Foto: AP
Harga masker juga naik lebih dari 10 kali lipat.

REPUBLIKA.CO.ID, WUHAN -- Kasus virus corona membuat warga China kian waspada. Demi melindungi diri, masyarakat China bepergian ke luar rumah dengan menggunakan masker.

Baca Juga

Masker terjual habis dan pemeriksaan suhu di bandara dan stasiun kereta api menjadi norma baru di Cina. Kasus virus corona jenis baru membawa kecemasan bagi banyak orang, baik di dalam atau luar negeri ketika pakar pemerintah Cina Zhong Nanshan mengonfirmasi virus itu dapat menyebar dari manusia ke manusia.

Saat ini masker menjadi benda wajib di Rumah Sakit Keluarga Bersatu Beijing. Orang yang masuk ke tempat itu pun harus dipantau terlebih dahulu suhunya di pintu masuk.

Sedangkan, di salah satu apotek di Shanghai, seorang penjaga toko bernama Liu Zhuzhen mengatakan, lebih dari 100 orang telah membeli masker pada tengah hari. Mereka sudah terjual habis meskipun baru-baru ini telah menyetok ulang.

AP melaporkan, Rabu (22/1), merek masker 3M terjual habis di toko daring resminya di platform e-commerce Taobao dan JD.com pada Selasa (21/1) sore. Pengecer lain menjual masker 3M  dengan harga lebih tinggi 40 yuan per masker sedangkan pada biasanya benda tersebut hanya 3 yuan saja.

Di luar Pusat Perawatan Medis Wuhan, di mana banyak pasien virus corona jenis baru menerima perawatan, beberapa pekerja mengenakan pakaian biohazard seluruh tubuh. Mereka pun dilengkapi dengan kacamata, masker, dan plastik yang melilit sepatu mereka.

Sementara itu, banyak warga yang mengenakan masker di Wuhan. Mereka memutuskan tetap beraktivitas seperti biasanya, meski wabah ini terus menambah korban jiwa dan penderitanya.

"Aku tidak khawatir," kata Helen Cao, seorang penduduk Wuhan yang berbelanja di jalan pusat kota yang dipenuhi toko-toko,

Cao yang juga mengenakan masker menyatakan, warga Wuhan  memutuskan untuk terus keluar rumah dan melakukan aktivitas meski Komisi Kesehatan Nasional mengatakan enam orang telah meninggal dan 291 telah terinfeksi di Cina. Hanya saja, perbedaan yang terlihat dengan banyak orang memutuskan menggunakan masker untuk menutupi saluran pernafasan mereka.

Selain, 258 kasus di Wuhan, lebih dari 20 kasus telah didiagnosis di Beijing, Shanghai, provinsi Guangdong di selatan dan Zhejiang di timur. Empat kasus telah dikonfirmasi di luar negeri di antara wisatawan Cina di Korea Selatan, Jepang dan Thailand. Seorang wanita Taiwan yang baru saja kembali dari Wuhan dinyatakan positif terkena virus.

Kekhawatiran tentang wabah global yang mirip dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), membuat banyak negara telah mengadopsi langkah-langkah penyaringan untuk wisatawan dari Cina, terutama dari Wuhan. Pencegahan pun dilakukan kota tersebut, penjaga di bandara Wuhan gunakan termometer elektronik pada para wisatawan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Geng Shuang mengatakan, Wuhan mengendalikan arus orang yang masuk dan meninggalkan kota. "Untuk mengatasi epidemi Wuhan, Cina telah mengambil langkah-langkah yang ketat dan mengadopsi rencana yang komprehensif," kata Geng.

Australia, Jepang, Korea Selatan, dan AS termasuk di antara negara-negara yang meningkatkan pengawasan bandara. Tiga penerbangan langsung mingguan dari Wuhan ke Sydney akan dipenuhi oleh staf keamanan perbatasan dan biosecurity untuk penilaian.

"Tolong lakukan setiap tindakan pencegahan yang mungkin," Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menginstruksikan menteri kesehatan dan departemen pemerintah lainnya.

Keluarga virus corona termasuk yang menyebabkan flu biasa. Namun, beberapa ditemukan pada kelelawar, unta dan hewan lain telah berevolusi menjadi penyakit yang lebih parah seperti SARS, dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Kemungkinan virus dapat ditularkan di antara orang-orang meningkatkan kemungkinan penyebarannya lebih cepat dan lebih luas. Presiden Cina Xi Jinping pun telah menginstruksikan departemen pemerintah untuk segera merilis informasi tentang virus dan memperdalam kerja sama internasional.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA