Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

AS Kecam Ancaman Iran Keluar dari Kesepakatan Nuklir

Rabu 22 Jan 2020 11:01 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Utusan AS mengatakan Iran mengirim pesan negatif jika keluar dari kesepakatan nuklir. Ilustrasi.

Utusan AS mengatakan Iran mengirim pesan negatif jika keluar dari kesepakatan nuklir. Ilustrasi.

Foto: Reuters
Utusan AS mengatakan Iran mengirim pesan negatif jika keluar dari kesepakatan nuklir

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Utusan Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa Iran sedang mengirim "pesan yang sangat, sangat negatif" jika pihaknya keluar dari perjanjian nuklir global 2017 setelah negara-negara Eropa menudingnya melanggar perjanjian nuklir Iran 2015 dengan negara besar dunia, Selasa (21/1).

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan pada Senin bahwa Teheran bakal mundur dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Iran akan mundur jika pihak Eropa meneruskan apa yang disebutnya "sikap ngawur mereka" atau merujuk Iran ke Dewan Keamanan PBB atas dugaan pelanggaran perjanjian nuklir 2015.

"Kami akan menyambut konferensi peninjauan NPT di mana Iran mengancam akan mundur," kata Duta besar perlucutan senjata AS, Robert Wood, yang mencatat pembicaraan tentang NPT pada April di New York kepada wartawan di Jenewa.

"Saya rasa Iran perlu menghentikan fitnahan mereka dan duduk bersama dengan Amerika Serikat dan merundingkan satu kesepakatan yang tidak hanya berkaitan dengan isu nuklir. Tetapi juga dengan isu lainnya yang menjadi urusan kami seperti proliferasi dan pengembangan rudal balistik serta aksi memfitnah di seluruh dunia," katanya.

Ketegangan terus meningkat sejak Presiden AS Donald Trump menarik Washington dari perjanjian nuklir Teheran dengan negara besar dunia pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi AS. Konflik kemudian meletus menjadi serangan militer dalam sebulan terakhir.

Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, Esmaeil Baghaei Hamaneh, angkat bicara dan mengklaim program nuklir Iran selalu damai. "Pihaknya terus berada di bawah pengawasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari IAEA selama setahun belakangan," katanya mengacu pada Badan Tenaga Atom Internasional PBB yang mengerahkan sejumlah pengawas di fasilitas nuklir Iran.

Menurut Hamaneh Perjanjian nuklir 2015, yang dikenal dengan JCPOA, dirancang sebagai langkah membangun kepercayaan untuk meredam segala kekhawatiran, nyata atau rekayasa, atas karakteristik program Iran.

Amerika Serikat beserta sekutu Baratnya telah lama menuding Iran mengupayakan senjata nuklir. Teheran bersikeras pihaknya tidak pernah mencari senjata nuklir dan tidak akan pernah, dengan dalih kegiatan nuklir mereka untuk penelitian dan untuk menguasai proses produksi listrik.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA