Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Pentagon: 34 Tentara AS Cedera Otak Akibat Rudal Iran

Sabtu 25 Jan 2020 10:10 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Pasukan tentara Amerika Serikat

Pasukan tentara Amerika Serikat

Foto: Youtube
Iran melakukan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak pada 8 Januari.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pentagon mengatakan, sebanyak 34 personel pasukan militer Amerika Serikat (AS) didiagnosis menderita cedera otak traumatis karena serangan rudal Iran yang menyasar pangkalan militer AS di Irak. Angka itu lebih tinggi dari yang diumumkan sebelumnya.

Baca Juga

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, tidak ada anggota militernya yang terluka setelah serangan pesawat nirawak Iran 8 Januari lalu di dua pangkalan Irak yang menampung pasukan AS. Namun, Pentagon telah mengumumkan 34 personelnya mengalami cidera otak traumatis.

Trump dan pejabat tinggi lainnya pada awalnya mengatakan serangan Iran tidak membunuh atau melukai tentara AS. Pekan lalu militer AS mengatakan, 11 tentara AS telah dirawat karena gejala gegar otak setelah serangan terhadap pangkalan udara Ain al-Assad di Irak barat dan pekan ini mengatakan pasukan tambahan telah dipindahkan dari Irak untuk kemungkinan cedera.

Juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman mengatakan, 17 anggota militer AS yang didiagnosis menderita trauma sudah kembali kepada tugasnya di Irak. Sementara, delapan anggota yang sebelumnya dilarikan ke Jerman, kini sudah dipindahkan ke AS. Mereka menerima perawatan di rumah sakit militer Walter Reed.

Hoffman mengatakan, para anggota militer itu ada yang dirawat jalan, dan dibawa kembali ke AS agar lebih dekat dengan pangkalan pra-penempatan mereka. Sementara, ada 9 anggota militer tetap berada di Jerman untuk menjalani evaluasi dan perawatan.

"Militer telah melihat gejala seperti sakit kepala, pusing, kepekaan terhadap cahaya, dan mual," ujar Hoffman.

Pejabat Pentagon mengatakan, tak ada upaya meminimalkan atau menunda informasi mengenai cedera konkusif. Itu pun menjadi pertanyaan bagaimana AS menangani anggota cedera setelah serangan Iran.

Hoffman mengatakan, Menteri Pertahanan Mark Esper telah mengarahkan Pentagon untuk meninjau proses pelacakan dan pelaporan cedera dari serangan Iran. "Tujuannya adalah untuk menjadi transparan, akurat dan memberikan informasi terbaik kepada rakyat Amerika dan anggota layanan kami," kata Hoffman.

Berbagai kelompok kesehatan dan medial selama bertahun-tahun telah berusaha meningkatkan kesadaran tentang keseriusan cedera otak, termasuk gegar otak. Menurut data Pentagon, sekitar 408.000 anggota layanan telah didiagnosis dengan cedera otak traumatis sejak tahun 2000.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA