Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Tahun Baru Imlek di China Dalam Ketakutan Virus Corona

Sabtu 25 Jan 2020 10:17 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Penumpang menunjukkan gambar ilustrasi coronavirus pada ponselnya di  Bandara Guangzhou, Provinsi Guangdong, China, Kamis (23/1).  Wabah Virus Wuhan di China telah memakan korban 17 orang meninggal dan ratusan lainnya positif terjangkit.

Penumpang menunjukkan gambar ilustrasi coronavirus pada ponselnya di Bandara Guangzhou, Provinsi Guangdong, China, Kamis (23/1). Wabah Virus Wuhan di China telah memakan korban 17 orang meninggal dan ratusan lainnya positif terjangkit.

Foto: Alex PlavevskiEPA-EFE
Transportasi hingga taman hiburan ditutup saat perayaan Imlek akibat virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Perayaan Tahun Baru Imlek di China tidak lagi meriah akibat wabah virus corona. Warga merayakan Imlek dengan kekhawatiran infeksi meluas.

"Pilihan apa yang saya punya? Ini tahun baru China. Kami harus bertemu keluarga kami," ujar pria dengan nama keluarga Hu yang tiket kereta api-nya dibatalkan.

Sebanyak 13 kota di Cina telah diisolasi guna mengurangi penyebaran virus. Stasiun kereta api, bandara, terminal bus juga ditutup.

Baca Juga

Sebagai bagian dari pembatasan, beberapa bagian Tembok Besar di dekat Beijing akan ditutup mulai Sabtu. Kuil Lama Beijing, tempat orang-orang secara tradisional memberikan persembahan untuk tahun baru, telah ditutup.

Shanghai Disneyland akan ditutup mulai Sabtu (25/1) waktu setempat. Taman hiburan itu memiliki kapasitas 100 ribu pengunjung harian dan terjual habis selama liburan tahun baru tahun lalu.

Film perdana juga telah ditunda dan bisnis McDonald ditangguhkan di lima kota di provinsi Hubei. "Ada begitu banyak berita, begitu banyak data, setiap 10 menit ada pembaruan, itu menakutkan, terutama bagi orang-orang seperti kita di daerah yang sangat parah," kata penduduk Wuhan Lily Jin (30 tahun) mengatakan kepada Reuters melalui telepon.

Pekan panjang perayaan Tahun Baru Tikus dimulai pada Jumat (24/1) yang menambah kekhawatiran infeksi virus. Sebab, ratusan ribu orang China "mudik" saling menemui keluarga mereka.

Virus korona jenis baru itu telah menyebar ke kota-kota besar di Cina. Bahkan ke Asia, Amerika Serikat (AS), dan Prancis. Rata-rata pasien terjangkit seluruhnya setelah berpergian dari Wuhan.

Bandara-bandara di seluruh dunia mengantisipasi persebaran vius dengan memasang alat pengecek medis untuk virus itu dari penumpang yang datang dari China. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, terlalu dini untuk menunjuk wabah darurat kesehatan masyarakat di China menjadi wabah internasioal.

Kendati demikian, WHO akan menilai kembali dalam beberapa hari mendatang jika situasinya berkembang. Pakar kesehatan masyarakat di Fakultas Hukum Universitas Georgetown di Washinton, Lawrence Gostin mengatakan, pengisolasian masyarakat di Wuhan dan kota-kota lain di Cina sangat kontraproduktif.

"Penguncian Wuhan akan mendorong epidemi bawah tanah, memicu ketakutan, dan kepanikan," kata dia. Beberapa ahli meyakini bahwa virus itu tidak berbahaya seperti yang menyebabkan wabah Sindrom Pernafasan Akut (SARS) 2002-2003 yang merebak, yang juga dimulai di Cina dan menewaskan hampir 800 orang, atau pun yang menyebabkan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) yang telah menewaskan lebih dari 700 orang sejak 2012.

Tiga tim peneliti internasional yang menggunakan pendekatan berbeda telah mulai mengerjakan vaksin untuk virus korona jenis baru ini. Pasar telah bergolak minggu ini di tengah kekhawatiran bahwa wabah akan menghambat perjalanan dan mengurangi permintaan ekonomi. Saham-saham di perusahaan barang mewah sangat terpukul di tengah kekhawatiran penurunan permintaan dari China.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA