Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Permintaan Masker di AS Melonjak Karena Virus Corona

Sabtu 25 Jan 2020 13:24 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Muhammad Hafil

Permintaan Masker di AS Melonjak Karena Virus Corona. Foto ilustrasi: Waspada Virus Corona

Permintaan Masker di AS Melonjak Karena Virus Corona. Foto ilustrasi: Waspada Virus Corona

Foto: Republika
Permintaan masker melonjak karena mewabahnya virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Permintaan masker penutup wajah meningkat setelah virus korona baru menyebar ke Amerika Serikat (AS). Seorang apoteker di Manhattan's Chinatown, Teressa Zhan mengatakan, belum pernah dia melihat masker habis terjual di sejumlah apotek di sana dalam 10 tahun terakhir.

Lebih dari belasan apotek di kampung China, AS kehabisan masker. Hanya beberapa apotek yang masih menyisakan masker pada Jumat (24/1) mendekati Hari Raya Imlek.

Zhan mengatakan, ratusan penduduk setempat langsung bergegas membeli masker untuk perlindungan diri dari virus corona yang mulai merebak hingga AS. Salah satu pasien terjangkit virus ini ada di Chicago, dan dekat Seattle.

"Semua orang datang di pagi hari, dan berkata, apa ada masker? apakah Anda menjual masker," kata Zhan.

Selama musim flu biasa, pelanggan akan membeli satu atau dua masker bedah sekaligus melindungi diri dari virus. "Tapi kini mereka membeli seluruh kotak," kata Zhen.

Pembelian masker dalam jumlah besar dimulai awal pekan ini. Orang-orang membeli masker untuk persiapan melakukan perjalanan ke China untuk liburan Tahun Baru Imlek. Liburan ini dikhawatirkan dapat mempercepat laju infeksi. Banyak pula yang berharap dapat mengirim masker ke keluarga mereka di Cina.

"Beberapa orang membelinya untuk dibawa pulang ke China, sebab saat ini di China mereka kehabisan masker," ujar seorang teknisi di Tu Quynh Pharmacy, Ryan Ngo yang menjual masker terkahir yang tersisa di tokonya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut wabah ini hanya darurat bagi China, belum secara global. Gejala dari virus ini meliputi demam, sulit bernapas, dan batuk.

Seorang akuntan berusia 30 tahun, Annie Chan mencari masker wajah untuk sepupunya yang berpergian ke New York dari Hong Kong untuk berlibuar. Chan memeriksa Harmony Pharmacy yang sudah kehabisan persediaaan masker di apoteknya, meski masih memliki beberapa kotak masker dengan merek yang kurang protektif.

"Saya sebenarnya tak tahu apa yang dibutuhkan, saya hanya mencoba mencari masker yang masih ada," ujarnya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah mengkonfirmasi dua kasus virus korona di AS. Di antarnaya di Illinois dan Washington. CDC mengatakan, sebanyak 63 kasus potensial sedang diselidiki.

Orang-orang di Chinatown juga berbondong-bondong ke toko-toko herbal untuk membeli obat rumah. Rasa waspada mereka mengingatkan manajer toko herbal Patrick Siu tentang wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) tahun 2003, yang berasal dari China juga, dan menewaskan 774 orang di seluruh dunia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA