Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Beijing Pakai Obat Anti-AIDS untuk Obati Pasien Virus Corona

Ahad 26 Jan 2020 09:54 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Endro Yuwanto

Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Pusat Wuhan merawat pasien yang diduga terpapar virus corona di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Pekan ini, beberapa rumah sakit di Beijing, China, menggunakan obat anti-AIDS untuk pasien yang terinfeksi virus corona.

Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Pusat Wuhan merawat pasien yang diduga terpapar virus corona di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Pekan ini, beberapa rumah sakit di Beijing, China, menggunakan obat anti-AIDS untuk pasien yang terinfeksi virus corona.

Foto: The Central Hospital of Wuhan via Weibo/Handout via REUTERS
Ini bagian dari upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona di China.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Beberapa rumah sakit di Beijing, China, menggunakan obat anti-AIDS untuk pasien yang terinfeksi virus corona. Pemerintah Beijing menyatakan, hal tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona.

"Obat anti-AIDS telah digunakan dan terbukti efektif dalam mengobati virus corona," ujar pernyataan Komisi Kesehatan Beijing dilansir South China Morning Post, Ahad (26/1).

Tiga rumah sakit di Beijing telah ditunjuk untuk menangani kasus virus corona. Tiga rumah sakit tersebut adalah Beijing Ditan Hospital, Beijing Youan Hospital, dan No 5 Medical Center of PLA General Hospital. Ketiga rumah sakit ini menggunakan terapi obat anti-AIDS yang biasanya digunakan bagi pasien HIV untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus corona.

"Komisi Kesehatan Nasional telah merekomendasikan nama-nama rumah sakit untuk mengobati pasien dengan virus corona. Kami memiliki stok lopinavir/titonavir di Beijing," demikian pernyataan Komisi Kesehatan Beijing.

Lopinavir dan ritonavir digunakan untuk menghambat kemampuan virus HIV merusak sel yang sehat. Antiretroviral ini juga kerap digunakan sebagai kombinasi untuk mengobati penyakit.

Penelitian baru pada 41 kasus virus corona di China yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet edisi Jumat (24/1) mencatat manfaat klinis dari penggunaan obat untuk virus SARS. Namun, para ahli dari berbagai lembaga penelitian medis di China menyatakan tidak ada metode pengobatan yang terbukti.

“Tidak ada pengobatan antivirus untuk infeksi coronavirus yang terbukti efektif. Kombinasi lopinavir dan ritonavir untuk pasien SARS-CoV dikaitkan dengan manfaat klinis yang substansial (hasil klinis yang merugikan lebih sedikit)," menurut artikel yang diterbitkan dalam The Lancet.

Pada Sabtu (25/1) kemarin, 51 kasus virus corona telah dikonfirmasi di Beijing. Dari jumlah tersebut, dua pasien telah disembuhkan dan 49 lainnya dirawat di rumah sakit. Dari 49 pasien yang masih dirawat, satu orang dalam keadaan kritis.

Kepala tim ahli yang dibentuk oleh Pemerintah Beijing, Zhong Nanshan, mencoba untuk mengendalikan penularan virus corona. Zhong mengatakan kepada harian resmi Guangzhou bahwa obat-obatan untuk mengobati virus corona telah tersedia dan terbukti aman. Namun efektivitasnya perlu diamati.

Zhong tidak memberikan rincian obat yang digunakan. Ia mengatakan, hingga kini metode pencegahan terbaik adalah melalui deteksi dini dan karantina. "Jika pasien yang terinfeksi dikarantina tepat waktu, maka jumlah pasien akan menurun," jelas dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA