Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Haniyah: Agresi Israel tak Hanya ke Muslim, Tapi Kristiani

Ahad 26 Jan 2020 20:00 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Ismail Haniyah

Ismail Haniyah

Foto: EPA/Mohammed Saber
Haniyah meminta umat Kristiani menentang kesepakatan yang dibuat Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, MALAYSIA -- Ketua Hamas Ismail Haniyah meminta umat Kristiani seluruh dunia menentang 'kesepakatan abad ini' yang diajukan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Haniyah mengatakan proposal itu akan menghancurkan harapan solusi dua negara.
 
"Agresi Israel bukan hanya terhadap umat Muslim tapi juga banyak Kristiani yang juga menderita di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yerusalem dan tempat diaspora Palestina lainnya," kata Haniyeh dalam kunjungan ke Malaysia kepada South China Morning Post, Ahad (26/1).
 
Haniyah datang ke Putrajaya, Malaysia untuk bertemu dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di sana. Ia mengatakan  banyak umat Kristiani yang juga menderita karena kebijakan-kebijakan kependudukan Israel.   "Seperti warga Palestina lainnya hak-hak umat Kristiani di Palestina juga dilanggar," tambah Haniyah.
 
Haniyah mengatakan ia dipenjara bersama aktivis Kristen. Selama ini, tambah Haniyah, umat Kristen di Palestina juga sangat vokal menentang kependudukan ilegal Israel. Karena itu ia mengajak umat Kristiani di seluruh dunia menentang 'kesepakatan abad ini' yang bertujuan untuk menyelesaikan isu Israel-Palestina.
 
"Jadi saya meminta umat Kristiani di seluruh dunia untuk melihat apa yang terjadi dan menentang apa yang disebut kesepakatan abad ini antara Amerika dan pemerintah Benjamin Netanyahu," kata Haniyah.
 
Pada bulan Desember lalu Israel menolak izin umat Kristen Palestina untuk memasuki ritus-ritus religi seperti Yerusalem, Betlehem dan Nazareth selama Natal. Pada Jumat (24/1) lalu Pangeran Charles mengungkapkan dukungannya pada warga Palestina ketika berkunjung ke Bethlehem.
 
"Ini menyakiti hati saya untuk terus melihat begitu banyak penderitaan dan perpecahan," kata Pangeran Charles seperti dikutip media-media Inggris.
 
Trump dikabarkan mengundang oposisi Netanyahu yaitu ketua Partai Blue and White Benny Gantz untuk bertemu di Washington. Netanyahu yang memimpin Partai Likud dan Gantz akan membahas tentang rencana kesepakatan perdamaian di Timur Tengah.
 
Trump mengundang dua pemimpin politik Israel itu untuk mendengar dengan detail rencana perdamaian yang sudah lama tertunda. Pertemuan ini dilakukan sebelum Israel menggelar pemilihan umum ketiganya dalam satu tahun pada bulan Maret mendatang.
 
Pengamat politik Israel berpendapat pertemuan ini sengaja dilakukan sebelum pemilihan umum untuk mendorong suara Netanyahu. Kehadiran Gantz di Washington sempat diragukan. Tapi pada Sabtu (25/1) malam lalu ia mengatakan sudah berkomunikasi selama pejabat Gedung Putih selama berbulan-bulan dan memutuskan akan pergi.
 

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA