Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

China Larang Penjualan Satwa Liar Setelah Wabah Virus Corona

Senin 27 Jan 2020 06:01 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nur Aini

 Warga berbelanja dengan mengenakan masker di sebuah supermarket di kota Wuhan, Sabtu (25/1/2020).   Pemerintah China mengisolasi Kota Wuhan sebagai pusat penyebaran virus Corona yang telah menginfeksi sekitar ratusan warga Wuhan dan menewaskan puluhan lainnya.

Warga berbelanja dengan mengenakan masker di sebuah supermarket di kota Wuhan, Sabtu (25/1/2020). Pemerintah China mengisolasi Kota Wuhan sebagai pusat penyebaran virus Corona yang telah menginfeksi sekitar ratusan warga Wuhan dan menewaskan puluhan lainnya.

Foto: Chinatopix via AP
Satwa liar di pasar China dinilai sebagai inkubator virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Otoritas China melakukan berbagai cara untuk mengatasi penyebaran virus corona. China pada Ahad (26/1), untuk sementara waktu melarang penjualan satwa liar di pasar, restoran, dan platform e-commerce secara nasional.

Baca Juga

Lembaga Konservasi Margasatwa yang bermarkas di New York, meminta China untuk membuat larangan itu menjadi permanen. Hewan liar yang dikandangkan di pasar China dianggap sebagai inkubator bagi virus untuk berevolusi sehingga menyebabkan penularan pada manusia.

Otoritas kesehatan di Beijing mendesak orang-orang untuk tidak berjabatan tangan, melainkan memberi hormat menggunakan gerakan tradisional yang ditangkupkan. Saran tersebut dikirim dalam pesan teks yang dikirimkan ke pengguna ponsel di kota pada Ahad pagi ini.

Beijing juga menunda pembukaan kembali sekolah-sekolah dan universitas kota setelah liburan Tahun Baru Imlek. Sementara itu, Hong Kong telah menunda pembukaan kembali sekolah-sekolah hingga 17 Februari.

China telah menyerukan transparansi dalam mengelola krisis virus corona, menyusul penutupan sebelumnya saat penyebaran virus SARS yang mengikis kepercayaan publik. Namun, para pejabat di Wuhan telah dikritik terkait penanganan mereka terhadap wabah saat ini.

"Orang-orang di kampung halaman saya semua mencurigai jumlah pasien terinfeksi yang diberikan oleh pihak berwenang," kata Violet Li, yang tinggal di distrik Wuhan tempat pasar makanan laut berada.

"Saya pergi dengan masker dua kali sehari untuk mengajak anjing berjalan, itu satu-satunya kegiatan di luar ruangan," kata Li menambahkan.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan akan memindahkan personel di konsulat Wuhannya ke Amerika Serikat. Sementara Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan pemerintah bekerja sama dengan China untuk mengatur penerbangan charter bagi warga negara Jepang untuk pulang dari Wuhan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA