Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Kemampuan Menular Virus Corona Menguat

Senin 27 Jan 2020 08:15 WIB

Red: Budi Raharjo

 Warga berbelanja dengan mengenakan masker di sebuah supermarket di kota Wuhan, Sabtu (25/1/2020).   Pemerintah China mengisolasi Kota Wuhan sebagai pusat penyebaran virus Corona yang telah menginfeksi sekitar ratusan warga Wuhan dan menewaskan puluhan lainnya.

Warga berbelanja dengan mengenakan masker di sebuah supermarket di kota Wuhan, Sabtu (25/1/2020). Pemerintah China mengisolasi Kota Wuhan sebagai pusat penyebaran virus Corona yang telah menginfeksi sekitar ratusan warga Wuhan dan menewaskan puluhan lainnya.

Foto: Chinatopix via AP
Virus corona terbaru disebut bisa menular pada masa inkubasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Cina (RRC) melansir bahwa potensi transmisi virus korona baru dari Wuhan (2019-nCoV) belakangan menguat. Hal tersebut dikhawatirkan dapat membuat angka penularan melonjak.

Sejak penularan pertama kali terdeteksi pada Desember 2019 lalu, sebanyak 2.057 kasus telah dilaporkan secara global pada Ahad (26/1). Dari jumlah itu, sekitar 2.000 penularan terjadi di Cina dan sisanya di 13 negara lain. Jumlah korban meninggal telah mencapai 56 orang, sebagian besar telah berusia lanjut (lansia).

"Kemampuan penularan menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Sumber penularan juga bergerak dan dan mempersulit pengendalian dan pencegahan penyakit ini," kata Ketua Komisi Kesehatan Nasional RRC Ma Xiaowei dalam konferensi pers, kemarin.

Ia menegaskan, pengetahuan otoritas Cina terkait virus itu masih sangat terbatas dan mereka belum bisa memastikan risiko mutasi virus tersebut. “Bahaya lintas umur dari penyakit ini juga terus berubah,” ujarnya.

Salah satu perkembangan penelitian terbaru juga menyimpulkan bahwa 2019-nCoV bisa menular pada masa inkubasi. Hal ini berbeda dengan virus korona penyebab SARS yang menyebabkan 800 kematian pada 2002.

Masa inkubasi merupakan periode dari terpaparnya pasien dengan virus hingga munculnya gejala penyakit. Virus korona dari Wuhan diketahui memiliki masa inkubasi selama dua pekan atau 14 hari. Sehubungan telah dipastikannya potensi penularan antarmanusia, ini berarti virus korona dari Wuhan bisa ditularkan orang yang belum menunjukkan gejala-gejala penularan.

Merujuk laporan media independen Cina, Caixin, seluruh wilayah di Cina kecuali Tibet telah dimasuki virus tersebut. Sejauh ini, Pemerintah RRC telah mengisolasi secara menyeluruh atau secara sebagian sedikitnya 18 kota dengan sedikitnya 60 juta jiwa terdampak. Kebanyakan wilayah itu, seperti Wuhan, berada di Provinsi Hubei.

Selain di wilayah-wilayah itu, pembatasan transportasi, pembatalan perjalanan, pembatalan acara perayaan Imlek, penutupan tempat-tempat hiburan, serta peliburan sekolah juga dilakukan. Pada Ahad, Cina juga memberlakukan pelarangan menyeluruh perdagangan satwa liar di pasar-pasar, restoran, dan tempat jual beli lainnya. Sebanyak 1.600 tenaga medis telah dikerahkan ke Wuhan, sementara pengerjaan rumah sakit khusus guna menangani wabah itu terus dikebut.

Baca Juga

photo
Petugas mengatus lalulintas kendaraan beroperasi untuk membangun rumah sakit lapangan bagi korban Coronavirus di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.


Terkait mewabahnya virus korona, Presiden Cina Xi Jinping mengatakan, Cina sedang menghadapi situasi genting. Pada Sabtu (25/1) waktu setempat, Xi mengadakan pertemuan politbiro untuk membahas langkah-langkah percepatan dalam memerangi wabah.

"Kami terus mendorong pengendalian dan pencegahan penyakit. Tapi, saat ini kami sedang menghadapi krisis kesehatan masyarakat yang sangat parah," ujar Wakil Direktur Jenderal Departemen Urusan Sipil Hu Yinghai, Ahad (26/1).

Dalam sebuah surat kepada Komisi Kesehatan Nasional, seorang dokter yang mengaku berasal dari rumah sakit ternama di Wuhan menuding respons pemerintah setempat lambat dalam menangangi wabah. "Pasien-pasien ini tidak dikarantina dengan tepat waktu atau menerima perawatan medis yang memadai. Mereka juga dapat melakukan perjalanan di setiap sudut kota," tulis seorang dokter yang enggan dituliskan namanya pada South China Morning Post, Ahad (26/1).

Dokter itu menyatakan, pihaknya telah memperingatkan agar pasien dan masyarakat mengenakan masker wajah serta menghindari daerah ramai. Namun, peringatan itu tidak ditanggapi dengan serius.

Seorang perawat dari sebuah rumah sakit di Kota Huangshi, sekitar 100 kilometer dari Wuhan, mengatakan, rumah sakit tempatnya berdinas mengalami kekurangan peralatan medis. "Kami bahkan tidak memiliki cukup masker," ujar perawat yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Setidaknya, 24 rumah sakit di Wuhan dan kota-kota kecil lainnya telah meminta bantuan peralatan medis sejak Kamis. Mereka meminta pasokan masker, kacamata pelindung, dan pakaian medis. Seorang dokter di Wuhan juga dilaporkan ikut menjadi korban jiwa virus mematikan itu.

Kritik juga dilancarkan Hu Xijin, pemimpin redaksi Global Times, koran corong Partai Komunis Cina. " Wabah ini seharusnya tidak terjadi di Cina yang mempunyai standar medis canggih dan kemampuan organisasi sosial. Saya pribadi percaya bahwa Wuhan dan otoritas kesehatan nasional harus bertanggung jawab," tulis Hu melalui akun Weibo.

Hu mengatakan, otoritas lokal juga membatasi wartawan untuk mencari informasi mengenai wabah virus korona. n kamran dikarma/rizky jaramaya/reuters, ed: fitriyan zamzami

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA