Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Waspada Super-Spreader dari Wabah Corona

Selasa 28 Jan 2020 03:37 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Virus korona jenis baru 2019-nCoV terbukti dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Terkait fakta ini, ahli kesehatan Cina memperingatkan tentang super-spreader yang mungkin dapat memperburuk kondisi (Foto: kondisi kota Wuhan, China)

Virus korona jenis baru 2019-nCoV terbukti dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Terkait fakta ini, ahli kesehatan Cina memperingatkan tentang super-spreader yang mungkin dapat memperburuk kondisi (Foto: kondisi kota Wuhan, China)

Foto: Chinatopix via AP
Ahli kesehatan Cina peringatkan super-spreader yang bisa memperburuk keadaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Virus korona jenis baru 2019-nCoV terbukti dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Terkait fakta ini, ahli kesehatan Cina memperingatkan tentang super-spreader yang mungkin dapat memperburuk kondisi.

Super-spreader merupakan sebutan untuk seseorang yang karena berbagai faktor dapat menyebarkan penyakit menular ke banyak orang. Seringkali seorang super-spreader menularkan penyakit ke petugas-petugas kesehatan yang merawatnya.

Ketua tim ahli yang dikirim ke Wuhan untuk menginvestigasi 2019-nCoV Zhong Nanshan mengungkapkan bahwa keberadaan super-spreader dalam wabah Wuhan perlu diwaspadai. Nanshan dan tim sejauh ini sudah menemukan bukti bahwa seorang pasien bisa menularkan penyakit ke 14 tenaga kesehatan.

"Menghentikan kemunculan super-spreader merupakan kunci untuk mengontrol penyebaran virus," jelas Nanshan, seperti dilansir ABC, Selasa (28/1).

Istilah super-spreader pertama kali digunakan pada saat wabah SARS terjadi di 2002-2003. Banyaknya penularan antarmanusia pada saat itu membuat peneliti berpikir mengenai berapa banyak orang yang bisa tertular penyakit dari satu sumber yang sama.

"Menjadi jelas bahwa beberapa individu, sedikit orang, memiliki infeksi yang dapat menyebabkan kasus infeksi sekunder yang lebih luas," terang Direktur WHO Collaborating Centre for Reference and Research on Inlfuenza Kanta Subbarao.

Sejak saat itu, keberadaan super-spreader menjadi salah satu hal yang diperhatikan ketika sebuah virus baru muncul. Seperti Nanshan, Subbarao menyatakan bahwa infeksi sekunder biasnaya lebih banyak menegnai tenaga kesehatan yang merawat pasien dengan penyakit menular. Namun tak menutup kemungkinan juga bila infeksi sekunder mengenai orang-orang yang berkontak dengan pasien penyakit menular.

Belum diketahui apakah seorang super-spreader dapat menularkan penyakit ke banyak orang karena memiliki virus yang banyak atau karena dia berkontak dengan banyak orang. Untungnya, lanjut Subbarao, keberadaan super-spreader tergolong langka.

Subbarao dan ahli epidemiologi dan penyakit menular Monash University Allen Cheng belum mengetahui dengan pasti apakah keberadaan super-spreader menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya wabah corona virus Wuhan. Salah satu alasannya adalah informasi seputar wabah Wuhan masih berkembang.

"Sekarang masih awal, kami belum punya banyak informasi dan kami semua masih menunggu untuk melihat lebih banyak fakta dari publikasi ilmiah," tutur Subbarao.

Sayangnya, keberadaan super-spreader hanya bisa diidentifikasi setelah dia menginfeksi banyak orang. Tapi, super-spreader umumnya mengalami gejala penyakit sehingga mereka akan muncul di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain.

"Apa yang kita pelajari dari wabah SARS dan juga wabah coronavirus MERS adalah orang-orang yang menyebabkan banyak penularan infeksi selalu simptomatis dan mereka seringkali ada di fasilitas layanan kesehatan," jelas Subbarao.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA