Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Wali Kota Wuhan Akui Kesalahan Tangani Wabah Virus Corona

Selasa 28 Jan 2020 08:10 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

 Petugas medis mengenakan pakaian proteksi lengkap di kota Wuhan, China, yang terkena wabah virus Corona.

Petugas medis mengenakan pakaian proteksi lengkap di kota Wuhan, China, yang terkena wabah virus Corona.

Foto: Chinatopix via AP
Wali Kota Wuhan mengaku belum memberikan informasi menyeluruh terkait virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Wali Kota Wuhan Zhou Xianwang mengaku bahwa pihaknya belum memberikan informasi secara menyeluruh dan bertindak cepat dalam pencegahan wabah virus corona. Zhou menyadari, banyak pihak yang mengecam dirinya atas penanganan yang lambat terhadap penyebaran wabah tersebut.

Baca Juga

"Kami belum mengungkapkan informasi secara tepat waktu, dan juga tidak menggunakan informasi yang efektif untuk meningkatkan penanganan," ujar Zhou kepada China Central Television (CCTV).

Dilansir Guardian, Selasa (28/1), Zhou mengatakan, dirinya siap untuk mengundurkan diri jika publik menginginkannya. Di sisi lain, dia mengatakan, pemerintah daerah berkewajiban untuk meminta izin kepada pemerintah pusat sebelum sepenuhnya mengungkapkan informasi tentang wabah virus corona.

Pemerintah Wuhan telah mengisolasi kota dengan menghentikan operasional transportasi umum. Selain itu, pemerintah juga melarang kendaraan pribadi melintas di jalan raya.

Penanganan wabah virus korona telah membuat publik geram. Sebab, mereka sebelumnya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai potensi risiko yang ditimbulkan akibat virus tersebut serta tindakan pencegahannya. Virus itu diperkirakan telah muncul pada Desember.

Zhou mengatakan kepada CCTV, pemerintah tidak siap dengan penyebaran wabah virus corona dalam skala besar di berbagai kota. Dia memperkirakan 1.000 kasus baru akan muncul. Sebanyak 5 juta penduduk Wuhan telah bepergian sebelum pemerintah memerintahkan untuk mengisolasi kota tersebut.

Wuhan memiliki populasi penduduk sebesar 11 juta orang. Mereka kini terkunci dan tidak bisa pergi dari kota tersebut karena telah diisolasi. Perdana Menteri Cina, Li Keqiang mengunjungi Wuhan pada Senin pagi. Dia berkunjung ke fasilitas medis yang ada di kota tersebut.

Kunjungan Li menyusul ada kekhawatiran bahwa rumah sakit di Wuhan kewalahan dalam menerima pasien. Bahkan, sejumlah rumah sakit kekurangan peralatan medis. Menanggapi krisis itu, para pejabat menunjuk dua rumah sakit yang dikhususkan untuk menangani kemungkinan peningkatan wabah virus corona.

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengadakan pertemuan khusus dengan para pejabat di Beijing untuk membahas penanganan wabah virus corona yang semakin meluas. WHO tidak lagi menyatakan bahwa China berada dalam kondisi darurat.

Para ahli telah mempertanyakan apakan tindakan pemerintah kota untuk mengisolasi kotanya dapat bermanfaat untuk mencegah penyebaran virus corona. Pembatasan yang ketat berisiko menimbulkan kemarahan publik terhadap pemerintah, terutama pejabat kesehatan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA