Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Pembelaan Trump dalam Sidang Pemakzulan Melemah

Rabu 29 Jan 2020 15:40 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

President Amerika Serikat, Donald Trump

President Amerika Serikat, Donald Trump

Foto: AP
Upaya tim Donald Trump untuk memblokir saksi baru dalam sidang pemakzulan melemah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sidang pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpotensi mengalami perubahan drastis. Dukungan untuk memblokir saksi baru dari senator-senator Partai Republik semakin melemah dan harapan untuk menyelesaikan sidang dengan cepat pun semakin memudar.

Baca Juga

Hal itu setelah tim pengacara Trump mengajukan permohonan agar sidang ini 'segera diakhiri'. Dalam percakapan pribadinya dengan para senator Ketua Senat dari Partai Republik Mitch McConnell mengatakan ia belum memiliki hak untuk menghilangkan tuntutan Partai Demokrat yang ingin mendapatkan kesaksian mantan penasihat keamanan Gedung Putih John Bolton.

Dalam bukunya yang akan segera terbit, Bolton menulis Trump memintanya menahan bantuan militer untuk Ukraina sampai negara itu bersedia menyelidiki kandidat calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden. Jika benar, maka pernyataan itu akan memotong argumen pembelaan tim pengacara Trump.

"Saya pikir mungkin Bolton memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada kami," kata Senator dari Partai Republik Lisa Murkowski, Rabu (29/1).

Trump murka dengan kemungkinan Bolton bersaksi di sidang pemakzulannya. Di Twitter, presiden AS itu mengatakan Bolton tidak pernah mengeluhkan hal itu sebelumnya, ketika ia diberhentikan secara terbuka.

"Dia mengatakan, itu tidak masalah. Tidak Ada (masalah)," cicit Trump.

Ketidakpastian tentang saksi baru semakin meningkat beberapa hari sebelum pemungutan suara dalam isu ini dilaksanakan. Partai Republik mayoritas di Senat dengan perbandingan kursi 53-47. Maka, agar ada saksi baru setidaknya harus ada empat Senat dari Partai Republik yang bergabung dengan rekan-rekannya dari Partai Demokrat.

Jika pemanggilan saksi baru menang dengan 51 suara. Maka mereka yang akan memutuskan siapa yang akan di panggil atau apa saja yang akan dilakukan di sisa sidang pemakzulan. Beberapa anggota Partai Republik tampaknya siap untuk bergabung dengan Demokrat untuk memanggil saksi baru.

Pada Rabu dan Kamis (30/1) ini, kedua belah pihak memiliki waktu untuk menarik dukungan dari para senator yang belum menentukan pilihan dalam isu pemanggilan saksi. Di saat yang sama, para senator yang bertindak sebagai juri dapat mengajukan pertanyaan kepada anggota House of Representative dari Demokrat yang bertindak sebagai jaksa dan tim pengacara Trump.

Pertanyaan-pertanyaan itu diberikan secara tertulis kepada Pemimpin Sidang Hakim Agung John Roberts. Para senator diperkirakan akan menggali tema-tema besar sidang ini. Di antaranya apa yang telah dilakukan atau mungkin dilakukan Trump dalam tahap 'kejahatan tinggi dan pelanggaran kecil'.

Pada bulan lalu House, mendakwa Trump atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalang-halangi proses penyelidikan Kongres. House yang dikuasai Demokrat menilai Trump menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadinya.

Tim pengacara presiden berusaha mengunci kasus ini dengan mengatakan Trump memiliki wewenang untuk meminta Ukraina menyelidiki Biden dan putranya Hunter. Ia juga berkuasa untuk menahan bantuan militer. Menurut mereka, Trump juga tidak terikat dengan penyelidikan Kongres.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA