Rabu 29 Jan 2020 18:07 WIB

Rusia dan China Kembangkan Vaksin Virus Corona

China telah mengirim genom virus corona ke Rusia untuk pembuatan vaksin.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
 Petugas medis mengenakan pakaian proteksi lengkap di kota Wuhan, China, yang terkena wabah virus Corona.
Foto: chinatopix via AP
Petugas medis mengenakan pakaian proteksi lengkap di kota Wuhan, China, yang terkena wabah virus Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia dan China bekerja sama untuk mengembangkan vaksin virus corona. Otoritas kesehatan China telah mengirim genom virus tersebut ke Moskow.

"Para ahli Rusia dan China telah mulai mengembangkan vaksin," kata Konsulat Rusia di Provinsi Guangzhou dalam sebuah pernyataan pada Rabu (29/1). Tak dijelaskan apakah para ilmuwan Rusia dan China bekerja bersama atau terpisah dalam mengembangkan vaksin.

Baca Juga

Konsulat Rusia di Guangzhou hanya menyebut bahwa China telah mengirim genom virus corona ke Moskow. "Memungkinkan para ilmuwan kami untuk dengan cepat mengembangkan tes kilat yang memungkinkan untuk mengidentifikasi virus dalam tubuh manusia dalam waktu dua jam," katanya.

Rusia mengaku telah melakukan pembicaraan dengan China untuk mengevakuasi warganya dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Kota tersebut diketahui merupakan sumber atau pusat penyebaran wabah virus corona.

Sebelumnya, tim peneliti China telah mengidentikasi 30 kandidat obat yang diharapkan dapat menangani wabah virus corona (2019-nCov). Obat-obat itu ditemukan tim peneliti-ilmuwan gabungan dari Institut Shanghai Materia Medica di bawah naungan Chinese Academy of Sciences (CAS) dan ShanghaiTech University.

Para kandidat termasuk 12 obat anti-HIV seperti indinavir, saquinavir, lopinavir, carfilzomib, dan ritonavir. Dua obat virus anti-pernapasan syncytical, obat anti-skizofrenia serta imunosupresan turut menjadi kandidat.

Dalam daftar kandidat, terdapat pula beberapa obat tradisional Cina yang mungkin mengandung komponen efektif terhadap 2019-nCov seperti polygonum dan cuspatidum. "Para peneliti menyarankan kandidat obat ini dipertimbangkan untuk perawatan klinis pasien pneumonia yang terinfeksi 2019-nCov," kata Xinhua dalam laporannya pada Selasa (28/1).

Saat ini terdapat 5.974 warga China yang terkonfirmasi tertular virus corona. Jumlah korban meninggal akibat virus itu pun telah meningkat menjadi 132 orang.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement