Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

WHO: Terlalu Dini Katakan Corona Memuncak di China

Jumat 07 Feb 2020 09:33 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Seorang dokter pakaian pelindung memeriksa pasien di hotel yang digunakan sebagai tempat isolasi warga di Wuhan, Hubei, China, senin(3/2). WHO mengatakan terlalu dini untuk menyatakan bahwa virus Corona di China memuncak. Ilustrasi.

Seorang dokter pakaian pelindung memeriksa pasien di hotel yang digunakan sebagai tempat isolasi warga di Wuhan, Hubei, China, senin(3/2). WHO mengatakan terlalu dini untuk menyatakan bahwa virus Corona di China memuncak. Ilustrasi.

Foto: Chinatopix via AP Photo
WHO mengatakan terlalu dini untuk menyatakan bahwa virus Corona di China memuncak

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA - The World Health Organization (WHO) mengatakan terlalu dini untuk menyatakan bahwa virus Corona tipe baru di China memuncak. Meski, WHO mencatat bahwa China telah mengumumkan hari pertama penurunan jumlah infeksi baru.

Pakar Kedaruratan Utama WHO Michael Ryan mengatakan masih sulit untuk membuat prediksi soal perjalanan penyakit yang pertama kali dilaporkan di pusat kota Wuhan, Desember lalu itu. "Kami masih berada di tengah wabah yang hebat. Ada siklus penularan dan kami mungkin melihat kasus-kasus itu meningkat dalam beberapa hari mendatang. Tetapi setidaknya untuk saat ini, semuanya stabil," kata Ryan pada konferensi pers dikutip Channel News Asia, Jumat (7/2)

Menurutnya, empat ribu kasus atau 3.700 kasus virus Corona baru yang dikonfirmasi dalam satu hari, bukanlah untuk diakselerasi. "Dan tentunya itu masih merupakan kekhawatiran besar," katanya menambahkan.

Ryan menuturkan ada peningkatan konstan dalam infeksi di pusat penyebaran penyakit di Provinsi Hubei yang menyumbang sekitar 80 persen kasus orang yang terinfeksi. Meski demikian, WHO belum melihat percepatan yang sama di luar provinsi Hubei. "Dan sama-sama kita belum melihat akselerasi di Hong Kong, Makau, pada orang Taiwan juga," ujar Ryan.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) dan China berselisih mengenai masalah pengucilan Taiwan dari pertemuan WHO, termasuk dewan eksekutif yang tengah berlangsung. Beijing menuduh Washington melakukan propoganda politik.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyayangkan dua bulan yang lalu virus ini tidak diketahui oleh pihaknya. "Kami sudah belajar banyak tentang hal itu, kami tahu DNA-nya, kami tahu itu dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain, kami tahu bahwa mereka yang paling berisiko adalah orang yang lebih tua dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya," katanya.

Menurutnya masih banyak yang harus dipelajari termasuk sumber virus, tingkat keparahan, serta kemampuan vius dalam penyebarannya. Seorang ahli epidemologi WHO Maria van Kerkhove mengatakan bahwa virus tersebut menyebabkan spektrum penuh penyakit.

Dia pun menyerukan studi lebih lanjut tentang kasus-kasus ringan dan seberapa mudah orang yang terkena virus ringan dapat mudah menyebarkan virus. "Anda memiliki kasus-kasus ringan yang terlihat seperti flu biasa yang memiliki beberapa gejala pernapasan semisal sakit tenggorokan, pilek, demam yang semuanya melalui pneumonia. Bisa ada berbagai tingkat pneumonia, sepanjang jalan melalui berbagai kegagalan organ dan kematian," jelasnya.

Presiden China Xi Jinping berusaha meyakinkan warganya dan dunia bahwa China akan mengalahkan virus Corona. "Seluruh negara telah menanggapi dengan segala kekuatannya untuk menanggapi dengan langkah-langkah pencegahan dan kendali yang paling teliti dan ketat, China memulai perang rakyat untuk pencegahan dan pengendalian epidemi," kata Xi seperti yang dikutip oleh kantor berita Xinhua saat melakukan panggilan telepon dengan Raja Salman dari Arab Saudi.

Kematian akibat virus Corona baru atau 2019 nCoV melonjak per Jumat (7/2) menjadi 636 jiwa sementara lebih dari 28 ribu orang terinfeksi. Jumlah ini meningkat hampir empat dari Rabu (5/2) hingga Kamis (6/2).

Mayoritas korban meninggal berasal dari Hubei dengan 69 kematian baru dari epidemi dilaporkan pada Kamis. Angka kematian ini terpaut satu kasus lebih sedikit dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA