Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Virus Corona Bikin Masyarakat Miskin China Makin Merana

Jumat 07 Feb 2020 16:32 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Seorang warga melintasi rak penjualan beras yang kosong di sebuah supermarket di Hong Kong, Kamis, (6/2). Warga memborong berbagai kebutuhan dasar di toko-toko seiring merebaknya wabah virus corona dari China daratan.

Seorang warga melintasi rak penjualan beras yang kosong di sebuah supermarket di Hong Kong, Kamis, (6/2). Warga memborong berbagai kebutuhan dasar di toko-toko seiring merebaknya wabah virus corona dari China daratan.

Foto: VIncent Vu/AP
Kehidupan ekonomi di China nyaris lumpuh karena virus Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Virus Corona diperkirakan akan berdampak besar pada ekonomi China. Bagi pekerja informal berpenghasilan rendah, hilangnya pendapatan bisa jauh lebih dahsyat dari perhitungan ekonomi.

Contoh saja Lanying Guo yang memiliki restoran pangsit kecilnya di sebuah gang di Beijing. Dengan orang-orang disarankan untuk tetap tinggal di dalam rumah untuk meminimalkan penyebaran virus Corona, Guo mendapatkan sedikit sekali uang.

Saat itu, Gou berharap untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan pada Selasa (5/2) karena seharusnya orang-orang telah kembali dari libur Tahun Baru Imlek. Nyatanya, dia harus kembali menemukan kedai yang sepi.

Untuk mengendalikan penularan virus, pejabat kota di Beijing memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek dan menyuruh karyawan untuk bekerja dari rumah. Keputusan ini pun terjadi di banyak provinsi dan kota lain di Cina.

"Untuk lebih memastikan penahanan wabah virus Corona yang baru, semua karyawan, tidak termasuk personel penting yang mendukung layanan pemerintah, diharapkan kembali bekerja pada 10 Februari," pernyataan dari pemerintah kota Beijing dikutip dari Aljazirah.

Pernyataan tersebut artinya memperpanjang kondisi kedai yang sepi milik Guo. "Aku belum benar-benar mendapatkan uang selama hampir dua minggu hingga sekarang, dan aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan. Aku ingin hidup," ujarnya.

Guo berada pada tahap terakhir gagal ginjal dan telah menjalani dialisis selama empat tahun. Dia seorang janda tanpa anak dan harus memenuhi kehidupannya sendiri. Tanpa penghasilan harian untuk membayar kunjungan dokternya yang sepekan tiga kali, dia tidak akan hidup lama.

Berbeda dengan Guo yang menghidupi dirinya dan kesehatannya, warga lain Jun Xiang menanggung beban keluarga di pundaknya. Sebelum wabah dimulai, dia bekerja di Wuhan sebagai pekerja konstruksi dan kembali ke kota asalnya di provinsi Hunan untuk Tahun Baru Imlek.

Kemudian Wuhan diseterilkan. Xiang pun khawatir tidak mendapatkan cukup uang untuk memberi makan keluarganya dan menjaga putrinya di sekolah. "Aku membantu membangun Greenland Center Wuhan," kata Xiang merujuk pada gedung pencakar langit yang belum selesai di Wuhan.

Pekerja konstruksi biasanya dibayar berdasarkan per jam atau per hari. Jika mereka tidak bekerja, mereka tidak dibayar. "Jujur, jika aku bisa kembali, aku akan melakukannya, karena putriku perlu pergi ke sekolah," katanya.

Xiang pun mengeluhkan tidak bisa bekerja di Hunan, karena banyak orang melihatnya sebagai sebuah virus. Padahal, kebutuhan keluarganya hanya terpenuhi ketika dia bekerja dan saat tidak ada pekerjaan maka keluarganya menghadapi kelaparan.

Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), 54,5 persen pekerja China seperti kurir dan pekerja konstruksi dipekerjakan di sektor informal dan wiraswasta. Tanpa pendapatan yang stabil atau asuransi kontrak, para pekerja ini adalah kelompok pertama terkena dampak kemerosotan ekonomi.

"Ada pergulatan terus-menerus antara memaksimalkan upaya penanggulangan wabah dan meminimalkan dampak ekonomi apa pun tindakan yang akan kita lakukan terhadap ekonomi makro dan kehidupan masyarakat biasa," kata profesor ekonomi di China Central University of Finance and Economics Shao'an Huang.

Para analis telah mengusulkan untuk pihak berwenang mensubsidi kelompok berpenghasilan rendah. Itu menjadi pemanis bagi orang-orang untuk tinggal di rumah saat penguncian berlanjut.

"Pemerintah harus memastikan kelompok berpenghasilan rendah dan orang-orang yang menganggur menikmati tingkat mata pencaharian yang stabil tanpa terkena dampak wabah," kata Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi Hengda Universitas Tsinghua Hongze Ren.

Ren mengatakan, tidak peduli bagaimana pemerintah berencana untuk mengurangi kerusakan yang terjadi pada kelompok rentan, yang diperlukan adalah bertindak cepat. "Karena kebijakan sedang diperdebatkan, kehidupan orang tidak mendapatkan jeda," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA