Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Penyebab Kebakaran Hutan Australia Masih Jadi Perdebatan

Selasa 11 Feb 2020 15:45 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Pemadam kebakaran di pedesaan Australia harus bekerja begitu dekat dengan api. Masih ada yang menyangkal bahwa kebakaran hutan Australia dipengaruhi perubahan iklim. Ilustrasi.

Pemadam kebakaran di pedesaan Australia harus bekerja begitu dekat dengan api. Masih ada yang menyangkal bahwa kebakaran hutan Australia dipengaruhi perubahan iklim. Ilustrasi.

Foto: ABC/Cam Neville
Masih ada yang anggap kebakaran hutan Australia tidak dipengaruhi perubahan iklim

REPUBLIKA.CO.ID, BUCHAN -- Jeff McCole, seorang petani berusia 70 tahun pulang ke rumahnya untuk memberi makan domba. Saat rintik hujan mulai mengguyur, McCole berhenti sebentar di depan rumahnya yang hancur terpanggang api.

"Tidak ada yang seperti suara hujan mengetuk atap seng," kata McCole yang mencari-cari sisa kenangan di rumah itu, Selasa (11/2).

Di depan pintu tua yang hangus terbakar ada sebuah mainan truk dari logam yang pernah digunakan cucu McCole berlarian di beranda. Di bawah atap seng koleksi buku-buku istrinya Pride and Joy menjadi abu.

Di belakang rumahnya ada sisa pohon jeruk Valencia yang ditanam nenek McCole 65 tahun yang lalu. Kehancuran yang diakibatkan kebakaran hutan musiman di Australia tidak seperti sebelumnya.

Api dan asap beracun menyelimuti negara itu selama berbulan-bulan dan memicu perdebatan tentang perubahan iklim. Tapi sebagian petani pendukung sayap konservatif seperti McCole yakin bencana kebakaran hutan tidak berhubungan dengan pemanasan global.

McCole mengatakan perubahan iklim 'penuh dengan omong kosong'. Gagasan yang menurutnya didorong warga kota yang tidak memiliki pengalaman dengan hutan dan tidak mengerti siklus iklim Australia. 

"Kami sudah pernah mengalami kekeringan parah dan segala hal seperti itu sejak 70 tahun yang lalu. Hal ini hanya siklus yang terus berlangsung. Jika Anda menunggu akan berubah," kata McCole.

Selama berpuluh-puluh tahun para ilmuwan sudah memperingatkan perubahan iklim akan meningkatkan risiko kebakaran hutan ekstrem di Australia. Tahun ini Negeri Kangguru diterpa bencana yang mengakibatkan kebakaran hutan yakni kekeringan yang memecahkan rekor dan panas yang membuat hutan mudah terbakar.

Sebelum akhirnya hujan mengguyur negara itu beberapa hari terakhir, api membakar hampir 12 juta hektare lahan. Api juga menghancurkan lebih dari 2.800 rumah dan menewaskan 33 jiwa. Diperkirakan ada satu miliar binatang yang tewas karena kebakaran hutan.

Australia memiliki jejak karbon tertinggi per kapita di dunia. Mereka adalah salah satu eksportir gas dan batu bara terbesar. Pemerintah enggan mengadopsi kebijakan perubahan iklim yang menurut mereka dapat mengganggu perekonomian.

Namun kehancuran kebakaran hutan yang tak pernah terjadi sebelumnya meningkatkan tekanan terhadap pemerintah. Organisasi lingkungan, ilmuwan, dan semakin banyak warga Australia yang meminta pemerintah mereka mengatasi isu perubahan iklim.

"Masyarakat semakin takut dengan masa depan karena mereka telah melihat cuplikan masa depan di musim panas ini, saya pikir kebakaran hutan ini benar-benar melukai jiwa masyarakat Australia," kata profesor dan ilmuwan iklim Macquarie University, Lesley Hughes.

Jajak pendapat yang digelar think tank di Canberra pada Januari lalu oleh Australia Institute menemukan 79 persen warga Australia mengatakan mereka khawatir dengan perubahan iklim. Angkanya naik sekitar lima persen dari Juli tahun lalu. Sekitar 47 persen mengatakan sangat khawatir atau naik 10 poin.

Namun masih ada yang skeptis kebakaran hutan yang parah ini disebabkan perubahan iklim. Banyak politisi konservatif dan media yang mengisyaratkan kebakaran terjadi karena adanya pembakaran yang disengaja, siklus kekeringan, dan buruknya pengelolaan vegetasi yang mudah terbakar. 

Perdana Menteri Scott Morison yang sebelumnya menolak untuk membahas kaitan antara perubahan iklim dan kebakaran akhir-akhir ini mengakui koneksi itu. Tapi ia mengatakan prioritasnya saat ini mengatasi dampak ekonomi kebakaran hutan.

Pada pekan lalu Morrison menyinggung 'reduksi risiko' yang di antaranya praktik mengendalikan jumlah vegetasi mudah terbakar di hutan. Ia mengatakan menghindari kebakaran di masa depan sama pentingnya dengan mengurangi emisi. 

Ilmuwan iklim mengatakan masalah besar yang dihadapi Australia adalah panjangnya kekeringan dan meningkatnya panas di musim panas. Isu untuk mengendalikan kebakaran menjadi salah satu isu yang emosional di Buchan, Victoria. Di sana setidaknya ada 20 rumah yang habis karena terbakar Desember lalu.

"Perubahan iklim atau tidak kebakaran ini bencana yang menunggu untuk terjadi," kata Donald Graham, petani yang berhasil selamat dari kebakaran dengan bertahan di bunkernya.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA