Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Korut Perpanjang Masa Karantina Virus Corona

Kamis 13 Feb 2020 14:11 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Penanganan medis virus corona (Ilustrasi)

Penanganan medis virus corona (Ilustrasi)

Foto: ist
Korut belum secara terbuka mengkonfirmasi warganya terinfeksi virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Utara (Korut) hingga saat ini belum secara terbuka mengkonfirmasi bahwa warganya terinfeksi virus corona jenis baru atau Covid-19. Namun, negara tersebut telah meningkatkan upaya pencegahan dengan memperpanjang masa karantina dan mengirim petugas Palang Merah di seluruh negeri.

Baca Juga

Pada Rabu lalu, media Korut mengumumkan bahwa masa karantina telah diperpanjang menjadi 30 hari. Semua lembaga pemerintah serta orang asing yang tinggal di Korut wajib untuk mematuhi aturan masa karantina itu.

"Penyebaran epidemi menjadi masalah serius dengan kemungkinan menjadi bencana internasional," kata kantor berita negara KCNA.

Korut selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling tertutup. Wabah virus corona telah membuat Korut semakin terisolasi dengan menghentikan penerbangan dan layanan kereta api. Selain itu, Korut mewajibkan karantina selama berminggu-minggu bagi orang asing yang baru datang, menghentikan pariwisata internasional, dan menutup perbatasan.

Beberapa media Korea Selatan (Korsel) telah melaporkan banyak kasus dan kemungkinan kematian akibat virus korona di Korut. Namun, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berpusat di Pyonyang mengatakan kepada Voice of America bahwa mereka belum menerima informasi mengenai kasus infeksi virus corona.

Media pemerintah melaporkan, Palang Merah Korut telah dikerahkan ke daerah yang relevan di seluruh negeri. Mereka dikirim untuk melakukan kampanye pendidikan publik dan memantau orang-orang dengan gejala yang sesuai dengan infeksi virus corona.

"Mereka sedang melakukan kegiatan dalam berbagai bentuk dan dengan berbagai metode di tempat-tempat umum untuk memperkenalkan pengetahuan medis tentang epidemi, dan mendorong orang untuk membantu satu sama lain," lapor KCNA.

Saat ini, total kasus virus Covid-19 di China telah mencapai 44.653, termasuk di antaranya adalah 2.015 kasus baru yang dikonfrimasi pada Selasa (11/2). Sementara itu, ratusan kasus telah dilaporkan di puluhan negara dan wilayah lainnya di seluruh dunia.

Sejauh ini, virus Covid-19 telah menyebabkan lebih dari 1.000 kematian dengan 99 persen kasus terjadi di wilayah China daratan. Sementara itu, di luar wilayah tersebut ada dua kematian yang terjadi, yakni satu di Filipina dan satu di Hong Kong.

Dalam sebuah laporan dari kantor berita China, Xinhua, epidemi virus Covid-19 menjadi ujian besar bagi pemerintah Negeri Tirai Bambu dalam sistem dan kemampuan tata kelola mereka. Beberapa waktu lalu, seorang pejabat komisi kesehatan di Provinsi Hubei dari Partai Komunis diberhentikan menyusul kemarahan publik atas penanganan wabah virus oleh pemerintah setempat.

Sejak akhir Desember 2019, virus corona tipe baru terdeteksi pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei. Penyebaran virus secara global terjadi dengan kekhawatira terbesar bahwa penularan sesama manusia, di mana satu orang menyebarkan virus ke orang lain dan orang itu terus menularkannya. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA