Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Angka Pengangguran Prancis Turun ke Level Terendah

Jumat 14 Feb 2020 04:59 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Unjuk rasa serikat pekerja yang memprotes perombakan sistem pensiun di Prancis. Angka pengangguran Prancis pada akhir tahun lalu turun ke level terendah sejak 11 tahun silam. Ilustrasi.

Unjuk rasa serikat pekerja yang memprotes perombakan sistem pensiun di Prancis. Angka pengangguran Prancis pada akhir tahun lalu turun ke level terendah sejak 11 tahun silam. Ilustrasi.

Foto: Guillaume Horcajuelo/EPA
Angka pengangguran Prancis pada akhir tahun lalu turun ke level terendah

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS - Angka pengangguran Prancis pada akhir tahun lalu turun ke level terendah sejak 11 tahun silam. Data yang diungkapkan pemerintah ini memberikan Presiden Emmanuel Macron dorongan untuk meningkatkan perekonomian.

Pada Kamis (13/2) badan statistik negara INSEE mengungkapkan pada kuartal terakhir tahun lalu angka pengangguran jatuh menjadi 8,1 persen. Angka itu lebih rendah dari tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar 8,5 persen.

Angka pengangguran ini terendah sejak kuartal keempat 2008. Angka pengangguran tersebut lebih rendah dari prediksi jajak pendapat 11 ekonom yang digelar Reuters. Para ekonom memprediksi angka pengangguran bertahan di angka 8,5 persen.

Macron akan menyambut baik turunnya angka pengangguran ini. Terutama setelah ia didera mogok kerja dan unjuk rasa serikat buruh selama berminggu-minggu yang menolak reformasi sistem pensiun.

Walaupun angka pengangguran turun tapi perekonomian Prancis mengalami kontraksi pada akhir tahun lalu. Para ekonom menilai hal ini terjadi karena mogok kerja yang dilakukan buruh memukul rantai pasokan pabrik-pabrik.

Pada akhir tahun lalu perekonomian Prancis memang melemah. Tapi performa mereka lebih baik dibandingkan kekuatan ekonomi lain di zona Eropa seperti Jerman karena paparan ekspor Prancis lebih kecil sementara pertumbuhan ekonomi global melambat. 

Dengan besarnya permintaan dari perusahaan dalam negeri, maka perusahaan-perusahaan Prancis dengan stabil menambah jumlah pegawai mereka. Hal ini didorong oleh perubahan aturan tenaga kerja pemerintah Macron yang membuat perusahaan lebih mudah memecat dan mempekerjakan karyawan.

INSEE mengatakan tidak hanya pengangguran yang turun. Tapi pada kuartal keempat tahun lalu jumlah orang yang bekerja meningkat di level tertinggi sejak catatan ini dimulai pada 2003.

Angka orang yang bekerja diambil dari jumlah orang di usia produktif yang memiliki pekerjaan. Angka orang yang bekerja pada kuartal terakhir tahun lalu mencapai 65,9 persen. Angka pengangguran diambil dari jumlah orang di usia produktif yang sedang mencari pekerjaan. Jumlah orang yang memiliki kontrak pekerjaan permanen mencapai 49,3 persen.

Sama dengan kuartal keempat tahun 2018, ketika angka ini mencapai level tertingginya sejak kuartal ketiga 2009. Angka ini naik sejak Macron mereformasi aturan tenaga kerja. Para ekonom mengatakan aturan ini membuat pihak yang memberi pekerjaan menjadi tidak terlalu cemas dibandingkan sebelumnya. Sebelum aturan ini diterapkan, sulit bagi perusahaan atau individu yang memberikan pekerjaan untuk memecat pegawai yang memiliki kontrak permanen sementara bisnis sedang buruk.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA