Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

WHO Pastikan tak Ada Lonjakan Kasus Corona di Luar China

Jumat 14 Feb 2020 09:56 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. WHO memastikan tidak ada lonjakan jumlah kasus virus corona tipe baru di luar China.

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. WHO memastikan tidak ada lonjakan jumlah kasus virus corona tipe baru di luar China.

Foto: CDC via AP, File
WHO mencatat kasus infeksi virus corona ada di 24 negara selain China.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan tidak ada lonjakan jumlah kasus virus corona tipe baru di luar China. Sejauh ini, WHO tidak mendapati perubahan besar dalam pola kematian atau meluasnya wabah virus bernama resmi Covid-19.

Sementara itu, Provinsi Hubei di Cina yang menjadi pusat penyebaran wabah corona mencatat 242 jumlah kematian pada Rabu (12/2). Jumlah itu adalah yang terbanyak dalam sehari. Hingga kini, terdapat 14.840 orang yang didiagnosis terserang virus Covid-19 di provinsi tersebut.

"Ini tidak mewakili perubahan signifikan dalam lintasan wabah," ujar Kepala Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan, seperti dikutip dari laman BBC, Jumat (14/2).

Ryan menyampaikan, ada dua kematian serta 447 kasus yang tercatat di 24 negara selain China. Jumlah terbanyak kasus baru yang tercatat adalah 44 diagnosis pada penumpang kapal pesiar yang berlabuh di Jepang, membuat negara itu melaporkan 218 kasus.

Kapal bernama Diamond Princess itu kini dikarantina di Yokohama. Belum semua dari 3.700 penumpang telah diuji. Penumpang yang didiagnosis terserang virus telah dibawa ke rumah sakit untuk dirawat, lainnya masih berada di kabin kapal.

Menteri Kesehatan Jepang Katsunobu Kato memperbolehkan penumpang berusia 80 tahun ke atas yang dinyatakan negatif corona untuk turun dari kapal. Sementara itu, penumpang lain diizinkan keluar kapal pada Jumat, namun tetap berada di akomodasi yang disediakan pemerintah.

Sementara itu, kapal pesiar MS Westerdam yang berlayar dari Singapura membawa lebih dari 2.000 orang telah berlabuh di Kamboja. Sebelumnya, kapal ditolak berlabuh di Jepang, Taiwan, Guam, Filipina dan Thailand, meskipun tidak ada pasien yang sakit di kapal.

Pada Kamis (13/2), Jepang mengumumkan kematian pertama akibat virus corona. Korban adalah perempuan berusia 80-an yang tinggal di Kanagawa, barat daya Tokyo. Media Jepang melaporkan, korban tidak memiliki keterkaitan jelas dengan Provinsi Hubei, China.

Diagnosis kasus baru dan kematian di Hubei menambah angka kematian nasional di China hingga mencapai 1.350, dengan total infeksi hampir 60 ribu. China telah memecat dua pejabat tinggi di provinsi tersebut beberapa jam setelah angka-angka baru terungkap.

Meski lonjakan virus di Hubei tercatat hingga Rabu, WHO mengatakan, jumlah orang dengan virus di sana mulai stabil. Menurut dia, kenaikan jumlah kasus mencerminkan perubahan dalam cara tim medis China mendiagnosis kasus.

Provinsi yang menyumbang lebih dari 80 persen keseluruhan infeksi virus di China itu menggunakan definisi baru untuk diagnosis pasien. Ryan menginformasikan, anggota tim WHO diperkirakan tiba di China pada akhir pekan untuk turut menyelidiki pusat penyebaran.

"Sebagian besar dari kasus-kasus ini berhubungan dengan periode berhari-hari dan berpekan-pekan silam yang secara retrospektif dilaporkan sebagai kasus sejak awal wabah," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA