Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

Jumat, 4 Rajab 1441 / 28 Februari 2020

AS Desak China Gabung dalam Pengaturan Nuklir

Sabtu 15 Feb 2020 08:44 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping.

Foto: AP Photo/File
China telah menolak proposal pengaturan senjata nuklir yang diajukan AS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) membuat tekanan baru pada China untuk bergabung dengan pembicaraan pengaturan senjata nuklir. Pembicaraan ini mencoba menarik China untuk menggantikan kesepakatan lama bersama Rusia.

Presiden AS Donald Trump pun telah berusaha membujuk China untuk bergabung dengannya dan Rusia dalam pembicaraan mengenai perjanjian pengendalian senjata. Pembicaraan itu merupakan pengganti perjanjian New START 2010 antara Washington dan Moskow yang akan berakhir Februari mendatang.

Senjata nuklir AS dan Rusia jauh lebih kecil daripada China. Terlebih lagi penumpukan militer Beijing di kawasan Asia-Pasifik telah membuat khawatir para sekutu dan pembuat kebijakan AS. 

China telah menolak proposal Trump dengan alasan bahwa kekuatan nuklirnya yang lebih kecil bersifat defensif dan tidak menimbulkan ancaman. "Keheningan yang berkelanjutan dari China menciptakan ketidakpastian tentang niat mereka dan hanya membawa perlunya fokus baru pada pencegahan dan kesiapan militer untuk AS," kata seorang pejabat pemerintah AS.

Pejabat senior administrasi Trump mengatakan, China telah lama mengatakan tidak akan pernah memasuki perlombaan senjata dan tidak mencari kesamaan dengan AS dan Rusia. Namun, dia menegaskan, sudah waktunya bagi China untuk menaruh dana di tepat yang semestinya dengan membuktikan fasilitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

China diperkirakan memiliki sekitar 300 senjata nuklir. Pejabat itu mengatakan, dengan jumlah tersebut, China merupakan kekuatan militer utama.

"Anda tidak dapat meminta status global tanpa memikul tanggung jawab global untuk tatanan dunia dan inilah mengapa kami percaya inilah saatnya bagi China untuk berpartisipasi dalam pengaturan senjata bersama AS," kata pejabat itu.

Perjanjian New START merupakan satu-satunya batasan yang tersisa untuk penyebaran nuklir AS dan Rusia. Beberapa ahli dan anggota parlemen menyebut proposal Trump untuk memasukkan Beijing dalam perjanjian baru merupakan strategi racun. Pengaturan baru nantinya bertujuan untuk membunuh New START dan mengakhiri pembatasan AS.

New START membatasi AS dan Rusia untuk mengerahkan tidak lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir yang merupakan level terendah dalam beberapa dekade. Perjanjian ini pun membatasi rudal dan pembom berbasis darat dan kapal selam yang mengirimnya.

Kondisi itu dapat diperpanjang hingga lima tahun jika kedua belah pihak setuju. Moskow telah menawarkan untuk segera memperpanjang perjanjian itu tetapi Washington belum memutuskan.

"Pada New START, kami tidak membuat keputusan tentang kemungkinan perpanjangan karena kami fokus menangani berbagai ancaman yang lebih luas di luar hanya senjata yang tunduk pada perjanjian," kata seorang pejabat AS.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA