Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Pria di China Maraton di Apartemen Cegah Tertular Corona

Ahad 16 Feb 2020 04:51 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Christiyaningsih

Terus berada di rumah tak menghalangi warga China berolahraga agar tetap bugar. Ilustrasi.

Terus berada di rumah tak menghalangi warga China berolahraga agar tetap bugar. Ilustrasi.

Foto: Jerome Favre/EPA-EFE
Terus berada di rumah tak menghalangi warga China berolahraga agar tetap bugar

REPUBLIKA.CO.ID,HONG KONG — Terus berada di rumah karena wabah virus Corona ternyata tidak menghalangi para warga China untuk berusaha bugar. Sebagian besar dari 1,4 miliar populasi memesan pusat kebugaran tertutup dan di dalam ruangan.

Mereka berlomba satu sama lain dalam berapa banyak botol air yang dapat diangkat, berapa banyak push-up yang dapat mereka lakukan dengan anak-anak di punggung mereka, atau seberapa banyak mereka lari di apartemen. Seorang warga bernama Pan Sanchu mengatakan ia berlari sejauh 66 kilometer dalam satu putaran di apartemennya selama enam jam 41 menit.

Ia memiliki pelacak data sebagai bukti. Aksi pria berusia 44 tahun itu terekam di sebuah video dan menjadi viral di China.

“Saya merasa sedikit pusing pada awalnya, tetapi terbiasa setelah berulang kali lari melingkar,” ujar Pan pada AFP melalui telepon dari Hangzhou dekat Shanghai seperti dilansir Malay Mail, Sabtu (15/2).

Berlari, menurut Pan, saat ini seperti candu. Jika ia tidak berlari dalam waktu yang lama, kakinya seperti terasa gatal.

Pada kesempatan lain, Pan lari di tempat sejauh 30 kilometer, di kamar mandinya, serta menyiarkan langsung. Tujuannya untuk menginspirasi orang lain yang berada di rumah selama dua pekan terakhir.

“Saya berada dalam grup obrolan daring di mana orang-orang bertanya apa yang paling ingin kami lakukan setelah epidemi. Beberapa orang mengatakan mereka ingin mengadakan pesta. Saya mengatakan bahwa saya ingin berlari 100 kilometer di luar,” kata Pan.

Partai Komunis China meluncurkan kampanye yang menampilkan atlet Olimpiade untuk menunjukkan bagaimana orang dapat tetap bugar namun menghabiskan hari-hari di dalam ruangan. Menurut satu pamflet daring, meja, kursi, bahkan kusen pintu semuanya dapat digunakan untuk membantu berolahraga.

Sekolah sementara ditutup, tidak terkecuali anak-anak. Mereka telah diperintahkan oleh otoritas pendidikan untuk tidak bersantai bermain gim komputer atau mengutak-atik ponsel mereka.

“Selain membiarkan anak-anak membantu orang tua mengerjakan tugas sesuai kemampuan mereka, mereka harus kreatif di rumah. Misalnya, berjalan dan berlari di tempat, push-up, sit up, dan sebagainya,” ujar pakar pemerintah Zhao Wenhua.

Seorang warga Inggris berusia 61 tahun, Peter Gardner, yang tinggal di kota Tianjin punya cara tersendiri untuk tetap bugar. Gardner mengatakan ia diizinkan keluar dari blok apartemennya hanya selama 30 menit di siang hari untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Untuk menebus kurangnya olahraga, pria yang bekerja sebagai manajer operasi untuk sebuah perusahaan Amerika ini punya trik. Dia berlari dua kali naik turun tangga darurat menara apartemen 17 lantai tiga kali sehari. Terbatasnya akses keluar rumah, tutur Gardner, membawa kebaikan dalam beberapa hal.

Ia tidak bisa keluar minum dan kehilangan berat badan sekitar tiga perempat kilo. “Tidak ada tempat untuk makan, tempat untuk pergi dan saya makan sederhana karena saya tidak bisa membeli barang yang saya inginkan,” kata Gardner.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA