Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

AS Dituding Ingin Ganti Rezim Iran

Ahad 16 Feb 2020 09:08 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nur Aini

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

Foto: Reuters
Menlu Iran menyebut AS enggan berbicara secara langsung dengan negaranya.

REPUBLIKA.CO.ID, MUNICH -- Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menuding AS menginginkan adanya pergantian rezim di negaranya. Karena itu, menurut dia, AS pun enggan berharap melakukan pembicaraan secara langsung antara Washington dan Teheran.

Baca Juga

Hal itu disampaikan Zarif pada sesi panel di Konferensi Keamanan Munich, dilansir Anadolu Agency, Ahad (16/2). Dia mengatakan kemungkinan negosiasi langsung antara AS dan Iran akan tergantung pada Presiden Donald Trump.

"Sayangnya saran oleh Macron, dan oleh Abe, dan lainnya, semua telah gagal," katanya, merujuk pada upaya diplomatik oleh Presiden Prancis dan Perdana Menteri Jepang tahun lalu, yang berusaha untuk menyelesaikan ketegangan antara AS dan Iran melalui negosiasi.

Menurut Zarif, Presiden AS Donald Trump juga telah diyakinkan bahwa Iran bakal runtuh. "Jika dia tidak ingin berbicara dengan rezim yang runtuh, saya pikir dia salah. Saya pikir mereka mengatakan bahwa ini bukan tentang perubahan rezim. Tapi itu semua yang mereka inginkan," ujarnya.

Zarif menuntut agar AS mengakui negara Iran dan perannya di kawasan itu. "Mereka menginginkan (perubahan rezim) selama 41 tahun terakhir. Dan mereka telah gagal selama 41 tahun terakhir. Mereka hanya harus mengakui bahwa Iran adalah kenyataan di wilayah ini," katanya.

Ketegangan meningkat antara AS dan Iran sejak Mei 2018, ketika Presiden Trump memutuskan untuk secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir penting antara kekuatan dunia dan Teheran. Pemerintahan Trump sejak itu memulai kampanye diplomatik dan ekonomi untuk menekan Iran untuk menegosiasikan kembali perjanjian tersebut. Pada Januari, AS membunuh jenderal Iran Qasem Soleimani dalam serangan rudal di Baghdad, memicu ketegangan lebih lanjut antara kedua musuh.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA