Selasa 18 Feb 2020 15:34 WIB

Inggris Minta Perusahaan Ungkap Dampak Corona pada Bisnis

Perusahaan Inggris menghadapi risiko disrupsi produksi di China.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini
Penanganan medis virus corona di China (Ilustrasi)
Foto: ist
Penanganan medis virus corona di China (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Badan pengawas akuntansi Inggris meminta perusahaan-perusahaan untuk mengungkapkan dampak virus corona baru kepada investor. Perusahaan Inggris diminta untuk membuka dampak epidemi terhadap bisnis mereka.

Dewan Laporan Finansial (FRC) Inggris mengatakan laporan tahunan 2019 sudah jatuh tempo. Mereka juga mengatakan hukum mengharuskan perusahaan untuk mengungkapkan risiko utama dan ketidakpastian bisnis mereka dengan cara yang bermakna dan tepat waktu.

Baca Juga

"Kami mendorong perusahaan-perusahaan untuk mempertimbangkan dengan hati-hati apa yang butuh diungkapkan untuk disertakan ke dalam akun akhir tahun mereka terkait kejadian-kejadian ini," kata FRC dalam pernyataan mereka, Selasa (18/2).

FRC mengatakan risiko-risiko yang dihadapi perusahaan antara lain disrupsi produksi di China. Wabah virus corona baru menyebabkan pabrik-pabrik di China kekurangan pegawai dan menunda produksi mereka.    

"Selain itu perusahaan-perusahaan yang mungkin tidak memiliki cabang di China tapi memiliki hubungan dagang yang signifikan atau rantai pasokan global yang bergantung pada pabrik-pabrik barang China perlu mempertimbangkan apa yang mereka ungkapkan bila bisnis mereka terancam terdisrupsi," kata FRC.  

FRC mengatakan perusahaan-perusahaan mungkin perlu merevisi penilaian aset dan liabilitas mereka. Perusahaan-perusahaan Inggris juga diminta untuk melakukan tes terhadap penurunan nilai tambah dan memeriksa apakah sewa menjadi memberatkan.

Badan pengawas itu mengatakan akan ada diskusi dengan perusahaan audit. Diskusi itu untuk menilai dampak audit terhadap perusahaan Inggris yang memiliki cabang di Cina.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement