Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Monday, 9 Syawwal 1441 / 01 June 2020

Lansia dan Petugas Medis Paling Berisiko Tertular Corona

Selasa 18 Feb 2020 16:10 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

Seorang perawat mengecek kondisi pasien yang terjangkit virus corona.

Seorang perawat mengecek kondisi pasien yang terjangkit virus corona.

Foto: Chinatopix via AP
Orang yang memiliki penyakit juga paling berisiko terinfeksi virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, WUHAN — Pejabat Kesehatan China merilis rincian pertama lebih dari 70 ribu kasus virus corona jenis baru yang ada di negara itu dalam sebuah studi terbesar sejak wabah dimulai pada akhir Desember 2019. Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina (CCDC), lebih dari 80 persen kasus dikategorikan ringan.

Baca Juga

Namun, infeksi virus corona jenis baru ini paling berisiko terhadap orang-orang yang telah memiliki penyakit lain, serta mereka di usia lanjut. Penelitian juga menunjukkan risiko tinggi bagi para staf medis. 

Temuan dari studi menempatkan tingkat kematian keseluruhan virus yang dinamakan secara resmi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai COVID-19 adalah sebesar 2,3 persen. Di Provinsi Hubei, yang terkena dampak paling buruk dari wabah, dilaporkan tingkat kematian adalah 2,9 persen dibandingkan dengan hanya 0,4 persen di seluruh daratan China. 

Jumlah resmi terkait infeksi virus corona yang dirilis pada Selasa (18/2) menunjukkan adanya 98 kematian terbaru serta 1.886 kasus terbaru dalam satu hari terakhir. Setidaknya 93 dari kematian terbaru ada di Hubei, demikian 1.807 kasus. 

Pihak berwenang China melaporkan lebih dari 12 ribu orang telah pulih dari infeksi virus corona jenis baru. COVID-19 menyebabkan gejala seperti pneumonia pada 14 persen orang-orang yang terinfeksi dan lima persen mengalami penyakit kritis. Kemudian, diketahui tingkat kematian dari kasus yang dikonfirmasi adalah  2,3 persen -2,8 persen untuk pria dibandingkan 1,7 persen untuk perempuan. 

Meski tingkat kematian dinilai lebih rendah dibandingkan SARS (sindrom pernapasan akut parah) dan MERS yang disebabkan virus corona, tetapi COVID-19 pada akhirnya bisa terbukti lebih mematikan dengan menyebar lebih banyak antar manusia. Flu biasa memiliki tingkat ematian 0,1 persen, tetapi bisa membunuh ratusan ribu orang karena menginfeksi jutaan manusia setiap tahunnya. 

Virus corona jenis baru pertama kali ditemukan pada Desember 2019, dengan dugaan bahwa orang-orang terinfeksi setelah terpapar virus dari pasar makanan laut Huanan di Wuhan. Di pasar itu, tidak hanya berbagai jenis makanan laut yang dijual, namun terdapat juga hewan-hewan liar yang diperdagangkan dan diyakini sebagai sumber infeksi, salah satunya kelelawar buah.

Kasus virus corona jenis baru tercatat mengalami penurunan sejak 1 Februari lalu. Namun, jumlah bisa berubah ketika banyak orang yang kembali bekerja dan melakukan kegiatan belajar di sekolah pasca liburan panjang Tahun Baru Imlek. 

Pemerintah China telah berusaha mencegah hal itu dengan memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek dan memberlakukan pembatasan perjalanan ketat. Selain itu, bagi siapapun yang kembali dari luar wilayah dekat pusat epidemi virus corona diminta untuk mengkarantina diri mereka masing-masing selama 14 hari. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA