Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Virus Corona Pengaruhi Operasi Pabrik Nuklir di Fukushima

Rabu 19 Feb 2020 00:55 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Virus Corona

Virus Corona

Foto: EPA-EFE/CDC
Pekerja pabrik nuklir Fukushima terpaksa menggunakan jas hujan plastik.

REPUBLIKA.CO.ID, OKUMA — Wabah virus corona tampaknya mempengaruhi sejumlah bisnis antara China dan mitra ekonomi negara itu. Seperti di Fukushima, Jepang, para pekerja di pabrik nuklir prefektur tersebut harus memakai jas hujan plastik karena COVID-19 mengancam produksi pakaian pelindung di Negeri Tirai Bambu yang menjadi pemasok utama.

Staf membersihkan pabrik nuklir menggunakan mantel plastik khusus untuk mencegah debu radioaktif menempel pada pakaian atau tubuh. Operator TEPCO menyatakan sebanyak 6.000 item digunakan setiap hari, namun kali ini produk yang sama tidak tersedia dan hanya jas hujan biasa yang ada secara umum, sehingga menjadi satu-satunya pilihan.

“Sebagai contoh, kami memiliki mantel dengan saku transparan yang menunjukkan lencana ID dan perangkat pengukur radiasi mereka dan mungkin produk yang sama ini tidak tersedia,” ujar pernyataan dari juru bicara TEPCO dilansir Sputnik pada Selasa (18/2).

Sembilan tahun silam, tepatnya 11 Maret 2011 gempa bumi dan tsunami melanda Fukushima, prefektur ketiga terbesar di Jepang. Bencana ini memicu insiden di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, dengan tiga dari enam reaktor nuklir meledak dan akibatnya, wilayah tersebut terpapar radiasi nuklir.

Sejak saat itu, upaya pembersihan dilakukan dengan reaktor nuklir yang ditargetkan untuk dapat dibongkar sepenuhnya. Perekonomian di Fukushima diharapkan kemudian dapat kembali meningkat dengan para warga yang dapat menjalani kehidupan sehari-hari seperti sedia kala pasca bencana yang menelan korban jiwa hingga 4.105 orang dan merusak 98.218 unit rumah.

Sementara itu, Apple mengkonfirmasi bahwa perusahaan teknologi tersebut hanya memiliki sedikit harapan untuk memenuhi pendapatan kuartalan kedua. Hal itu karena pasokan iPhone yang merupakan produk mereka menjadi lebih rendah secara global karena sejumlah pabrik di Cina yang masih belum dapat beroperasi secara normal akibat wabah virus corona.

Virus corona jenis baru pertama kali ditemukan pada Desember 2019, dengan dugaan bahwa orang-orang terpapar dari pasar makanan laut Huanan di Wuhanm Provinsi Hubei, Cina. Di pasar itu, selain menjual berbagai jenis makanan laut, terdapat juga hewan-hewan liar yang diperdagangkan dan diyakini sebagai sumber infeksi. 

Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan jumlah kasus COVID-19 telah mencapai 72.436 di wilayah daratan negara itu pada Selasa (18/2). Sementara, angka resmi kematian yang terjadi adalah 1.868 dan bersamaan 12 ribu orang dilaporkan pulih dari infeksi virus corona jenis baru.

Virus corona jenis baru diketahui menyebabkan gejala seperti pneumonia pada 14 persen orang-orang yang terinfeksi dan lima persen mengalami penyakit kritis. Kemudian, diketahui tingkat kematian dari kasus yang dikonfirmasi adalah  2,3 persen - 2,8 persen untuk pria dibandingkan 1,7 persen untuk perempuan.

Meski tingkat kematian dinilai lebih rendah dibandingkan SARS (sindrom pernapasan akut parah) dan MERS yang disebabkan virus corona, namun COVID-19 pada akhirnya bisa terbukti lebih mematikan dengan menyebar lebih banyak antar manusia. Seperti virus flu biasa yang memiliki tingkat kematian 0,1 persen, namun bisa membunuh ratusan ribu orang karena menginfeksi jutaan manusia setiap tahunnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA