Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Dokter Jepang Kritisi Penanganan Kasus Diamond Princess

Kamis 20 Feb 2020 00:45 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Gita Amanda

Penumpang Diamond Princess melambaikan tangan ke penumpang lain yang meninggalkan kapal di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Tokyo, Rabu (19/2). Sebanyak 75 WNI masih berada di kapal Diamond Princess.

Penumpang Diamond Princess melambaikan tangan ke penumpang lain yang meninggalkan kapal di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Tokyo, Rabu (19/2). Sebanyak 75 WNI masih berada di kapal Diamond Princess.

Foto: EPA
Pemerintah Jepang dinilai telah gagal mengikuti protokol dasar penanganan virus.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Dokter spesialis penyakit infeksi Jepang, Kentaro Iwata, mengkritik perlakuan pemerintah negaranya dalam menangani penumpang Kapal Diamond Princess. Ia mengatakan pemerintah telah gagal mengikuti protokol dasar.

Dokter dari Rumah Sakit Universitas Kobe itu menyampaikan kritik di akun Youtube miliknya. Sebelumnya, ia juga menghabiskan waktunya sebagai sukarelawan di Dimaond Princess.

Kapal pesiar Dimaond Princess merapat di Yokohama pada 3 Februari 2020. Jepang juga telah dikritik terkait penanganan karantina termasuk dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

"Kapal pesiar tersebut sama sekali tidak memadai dalam hal pengendalian infeksi," kata Iwata, dalam videonya.

Ia menjelaskan, tidak seorang pun pengontrol infeksi profesional berada di dalam kapal. "Dan tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas pencegahan infeksi sebagai seorang profesional," kata dia.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara pemerintah Yoshihide Suga mengatakan, staf di kapal tersebut benar-benar dilindungi dari infeksi melalui penggunaan masker dan cuci tangan. Pemerintah telah berulang kali menjelaskan bahwa penanganannya sesuai sebagaimana mestinya.

Iwata menjelaskan, dirinya secara sukarela membantu para penumpang di dalam karantina. Namun, ia terkejut dengan yang dilihatnya di dalam. Ia menuturkan, tidak ada perbedaan antara zona hijau atau yang terbebas dari infeksi dan zona merah atau yang berpotensi terkontaminasi virus.

Ia mengunggah videonya atas desakan sang istri yang merupakan spesial penyakit menular. "Anda tidak ingin menyembunyikan masalah yang kacau. Kamu harus benar-benar melalkukan sesuatu," kata dia lagi dilansir Reuters.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA