Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Serangan Udara Hantam Rumah Sakit dan Kamp Pengungsi Suriah

Rabu 19 Feb 2020 21:40 WIB

Red: Ani Nursalikah

Serangan Udara Hantam Rumah Sakit dan Kamp Pengungsi Suriah. Pejalan kaki melintasi gedung yang hancui akibat serangan udara pasukan pemerintah di Kota Ariha, Provinsi Idlib Suriah.

Serangan Udara Hantam Rumah Sakit dan Kamp Pengungsi Suriah. Pejalan kaki melintasi gedung yang hancui akibat serangan udara pasukan pemerintah di Kota Ariha, Provinsi Idlib Suriah.

Foto: Ghaith Alsyayad/AP
Serangan udara menewaskan 300 warga sipil Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Serangan udara pemerintah menghantam rumah sakit dan kamp-kamp pengungsi di Suriah barat laut. Serangan menewaskan sekitar 300 warga sipil ketika pasukan Presiden Bashar al-Assad melancarkan operasi ke benteng terakhir pemberontak, Selasa (18/2).

Para pejabat PBB mengatakan badan-badan bantuan kewalahan menangani krisis kemanusiaan pada saat hampir satu juta warga sipil, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Mereka mengungsikan diri ke perbatasan Turki di tengah musim dingin yang berat agar terhindar dari serangan.

"Warga-warga sipil yang menyelamatkan diri dari pertempuran tersudut ke daerah-daerah tanpa tempat berlindung, yang ketersediaannya menyusut dalam hitungan jam. Dan mereka terus dibombardir. Mereka sudah tidak tahu harus pergi ke mana," kata kepala hak asasi manusia PBB Michelle Bachelet.

Sementara itu, pesawat tempur Suriah dan Rusia terus melakukan penggerebekan di kota Darat Izza di provinsi Aleppo pada Selasa, kata saksi mata, sehari setelah dua rumah sakit di sana rusak parah. Di Rumah Sakit Al Kinana, dinding-dinding yang hancur serta dan kabel dan peralatan pasokan medis yang diselimuti debu berserakan di rumah sakit sementara dua anggota staf terluka pada Senin (17/2).

Ankara mengatakan pembicaraan dengan Moskow tentang Idlib "tidak memuaskan" dan Turki akan mengerahkan lebih banyak pasukan ke wilayah itu. Para pejabat Turki dan Rusia melakukan pembicaraan hari kedua di Moskow tanpa kesepakatan yang jelas tentang Idlib.

Di wilayah itu, serangan terbaru oleh pasukan pemerintah Suriah, yang didukung Rusia, telah menewaskan beberapa tentara Turki. Rusia mengatakan kedua pihak menegaskan kembali komitmen mereka pada perjanjian yang ada saat ini, yang bertujuan mengurangi ketegangan di Idlib. Sebuah pernyataan yang muncul tidak menyebutkan permintaan Turki agar pasukan pemerintah Suriah mundur.

Turki mengatakan tidak bisa mengatasi gelombang pengungsi baru di luar 3,6 juta pengungsi Suriah yang sudah terdampar di dalam perbatasannya. Juru bicara hak asasi manusia PBB Rupert Colville mengatakan, "Banyaknya serangan terhadap rumah sakit, fasilitas medis, dan sekolah menunjukkan bahwa semua itu bukan hasil aksi yang tidak disengaja." Ia menjawab pertanyaan apakah Suriah dan Rusia dengan sengaja menargetkan warga sipil dan bangunan yang dilindungi.

Serangan-serangan itu bisa dianggap sebagai kejahatan perang, kata Colville dalam suatu pengarahan di Jenewa. Kantor hak asasi manusia PBB mengatakan pihaknya telah mencatat 299 kematian warga sipil sejak 1 Januari, yang sekitar 93 persen di antaranya disebabkan oleh pemerintah Suriah dan sekutu-sekutunya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA