Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Pasien HIV di China Berisiko Kehabisan Obat AIDS

Rabu 19 Feb 2020 22:05 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pasien HIV di China Berisiko Kehabisan Obat AIDS. Pekerja memasang tempat tidur di sebuah gedung convention center yang disulap menjadi rumah sakit sementara di Wuhan, Hubei China.

Pasien HIV di China Berisiko Kehabisan Obat AIDS. Pekerja memasang tempat tidur di sebuah gedung convention center yang disulap menjadi rumah sakit sementara di Wuhan, Hubei China.

Foto: Chinatopix via AP
Isolasi dan pembatasan pergerakan akibat corona menghambat pasien HIV mendapat obat.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pasien HIV di China berisiko kehabisan obat AIDS akibat karantina dan isolasi yang bertujuan membendung wabah penyakit virus corona. UNAIDS, Rabu (19/2), mengatakan karantina dan isolasi yang dilakukan pemerintah China menyebabkan mereka tidak dapat memasok kembali obat-obatan penting tersebut.

Badan PBB itu mengatakan telah mensurvei lebih dari 1.000 orang dengan HIV di China dan menemukan wabah virus corona, yang kini dikenal Covid-19, berdampak luar biasa terhadap kehidupan mereka. Wabah itu sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 74 ribu di China dan menelan 2.004 korban jiwa. Di luar China hingga kini tercatat lima kematian dengan 827 kasus virus corona.

Hampir sepertiga dari orang pengidap HIV yang disurvei oleh UNAIDS mengaku isolasi dan pembatasan terhadap pergerakan masyarakat di China menandakan mereka berisiko kehabisan pengobatan HIV dalam beberapa hari kedepan. Dari jumlah itu, hampir setengahnya atau 48,6 persen, mengatakan tidak tahu di mana mereka akan mendapatkan terapi antiretroviral berikutnya.

"Orang dengan HIV harus terus mendapatkan obat-obatan HIV demi keberlangsungan hidup mereka. Kami harus memastikan semua orang yang membutuhkan pengobatan HIV mendapatkan itu, tak masalah di mana pun tempatnya," kata Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima melalui pernyataan.

UNAIDS menyebutkan, menurut sumber pemerintah China, diperkirakan terdapat 1,25 juta orang dengan HIV di China pada akhir 2018. Seorang pegiat AIDS sekaligus relawan pengidap HIV di China mengatakan kepada Reuters ia membuat sebuah grup obrolan yang melibatkan lebih dari 100 pasien HIV, yang kebanyakan di Provinsi Hubei, pusat wabah Covid-19. Di situlah ia membantu pasien untuk berbagi pasokan obat-obatan terbatas antarmereka.

"(Orang tua) sangat panik, sangat panik dan di grup obrolan itu saya harus terus menghibur mereka. Bagi pasien obat itu penting, pengobatan juga penting. Ini bisa sama pentingnya dengan pasokan bantuan garis depan," kata pegiat itu, yang tak ingin disebutkan namanya.

Menambah masalah potensi kekurangan adalah tindakan yang muncul dari orang yang tidak terinfeksi dengan HIV. Mereka mengimbau pasien dengan virus penyebab AIDS berbagi obat mereka saat pengobatan eksperimen berpotensi melawan virus corona baru.

Meski tidak ada bukti uji klinis, Komisi Kesehatan Nasional China menyebutkan obat HIV lopinavir/ritonavir dapat dicoba pada pasien Covid-19. Hal tersebut memicu banyaknya pembelian obat-obatan seperti Kaletra, yang dikenal Aluvia, versi paten lopinavir/ritonavir dari AbbVie.

Menurut UNAIDS, isolasi di berbagai kota juga mengartikan orang dengan HIV, yang bepergian jauh dari kota asal mereka tidak dapat kembali ke rumah dan mengakses layanan HIV, termasuk pengobatan, dari layanan biasanya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA