Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Pengamat: Rusia tidak akan Rusak Hubungan dengan China

Kamis 20 Feb 2020 07:59 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Penumpang di Terminal F Bandara Internasional Sheremetyevo di Moskow saat tiba dari Beijing, Rabu (19/2). Warga China dengan visa pemerintah, bisnis, kemanusiaan, dan transit masih diizinkan masuk Rusia. Ilustrasi.

Penumpang di Terminal F Bandara Internasional Sheremetyevo di Moskow saat tiba dari Beijing, Rabu (19/2). Warga China dengan visa pemerintah, bisnis, kemanusiaan, dan transit masih diizinkan masuk Rusia. Ilustrasi.

Foto: Sergei Chirikov/EPA
Pengamat menilai Rusia sulit sepenuhnya menghentikan sementara hubungan dengan China

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW - Rusia menerapkan larangan masuk bagi sebagian visa warga China. Akibat wabah virus Corona yang telah menginfeksi 14 ribu orang itu, Rusia menerapkan berbagai batasan.

Akan tetapi China masih menjadi mitra dagang utama Rusia seperti sepuluh tahun terakhir. Karena itu menurut kepala Program Rusia di Asia-Pasifik di Carnegie Moscow Center, Alexander Gabuyev, akan sangat sulit bagi Rusia sepenuhnya menghentikan sementara hubungan dengan China.

"Ini kontradiksi antara harus mengendalikan penyebaran penyakit dan pada waktu yang sama menjaga hubungan ekonomi yang baik dengan China, mendikte kebijakan dua langkah ke depan, satu langkah ke belakang," kata Gabuyev, Kamis (20/2).

Rusia melarang masuk visa pelajar, wisatawan, pribadi, dan kerja warga China. Tapi Rusia masih mengizinkan visa pemerintah, bisnis, kemanusiaan, dan transit.

Gabuyev mengatakan pengunjung China yang datang ke Rusia untuk bisnis dan kemanusiaan hanya 10 persen. Tahun lalu ada sekitar 1,5 juta warga China yang datang ke Rusia.

Ketua Asosiasi Operator Tur Rusia Maya Lomidze mengatakan kebijakan yang melarang masuk sebagian besar pengunjung China akan berdampak signifikan pada pariwisata Rusia. Karena larangan ini, kata Lomidze, dalam beberapa bulan ke depan operator yang menawarkan jasanya kepada wisatawan China dapat kehilangan profit sebesar 47 juta dolar AS.

"Perkiraan di titik ini pesimistis, akan lebih baik untuk mengetahui bagaimana situasi di China dan berapa lama larangan masuk warga China diterapkan," kata Lomidze.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA