Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Blokade Israel Sebabkan 5.000 Pabrik di Gaza Tutup

Ahad 23 Feb 2020 23:45 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Petugas keamanan  Palestina memantau situasi di ladang yang terletak di perbatasan Israel - Gaza di Jalur Gaza setelah hampir 14 tahun tidak bisa mengakses lahan ini. Sebanyak 5.000 pabrik di Jalur Gaza telah tutup selama 13 tahun blokade Israel. Ilustrasi.

Petugas keamanan Palestina memantau situasi di ladang yang terletak di perbatasan Israel - Gaza di Jalur Gaza setelah hampir 14 tahun tidak bisa mengakses lahan ini. Sebanyak 5.000 pabrik di Jalur Gaza telah tutup selama 13 tahun blokade Israel. Ilustrasi.

Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS
Sebanyak 5.000 pabrik di Jalur Gaza telah tutup selama 13 tahun blokade Israel

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Ketua Popular Committee Against the Siege on Gaza, Jamal Al-Khodari, mengungkapkan sebanyak 5.000 pabrik di Jalur Gaza telah tutup selama 13 tahun blokade Israel. Hal itu menimbulkan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Palestina di sana.

Dia mengatakan penutupan ribuan pabrik mencerminkan tingkat penderitaan kemanusiaan sebagai akibat blokade Israel. Ribuan pekerja, insinyur, akuntan, dan teknisi kehilangan pekerjaan mereka.

"Realitas ini memiliki dampak bencana pada ekonomi Palestina dan efek berbahaya pada kehidupan lebih dari dua juta penduduk yang mengalami pengepungan di Gaza," ujar Al-Khodari dikutip laman Middle East Monitor belum lama ini.

Dia mencatat 85 persen penduduk Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Hal itu merefleksikan realitas kehidupan yang parah di Gaza. Hingga kini Israel masih memberlakukan larangan ekspor dan impor.

Tak hanya itu, Israel secara sengaja membatasi masuknya bahan-bahan baku ke Gaza. Menurutnya, tak ada cara lain untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Gaza selain mencabut dan mengakhiri blokade. Dia menyerukan seluruh negara dunia menekan Israel untuk melakukan hal tersebut.

Pertengahan 2019 lalu, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan situasi sosial dan ekonomi di Jalur Gaza kian memburuk. Blokade Israel menjadi penyebab utama terjadinya hal tersebut.

“Situasi sosial dan ekonomi di Gaza bergerak dari buruk menjadi lebih buruk,” ujar Direktur Operasi UNRWA di Gaza, Matthias Schmale, saat menghadiri pertemuan yang diselenggarakan Press House pada 30 Juni 2019.

Menurut dia, blokade Israel merupakan penyebab utama memburuknya situasi di Gaza. “Blokade telah menyebabkan tingkat pengangguran yang lebih tinggi, keruntuhan ekonomi, dan pembatasan perdagangan bebas,” ucapnya.

Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, jumlah pengangguran di Gaza terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2018, persentase pengangguran di sana mencapai 52 persen dari total populasi sekitar dua juta orang. Jumlah tersebut meningkat delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Program Pangan Dunia PPB (WFP) pernah melaporkan bahwa Gaza dibekap rawan pangan. Hal itu memengaruhi setidaknya dua pertiga penduduk di sana. Israel mulai menerapkan blokade terhadap Gaza pada 2007. Hal itu terjadi sejak Hamas mengambil alih kontrol daerah tersebut dari tangan Fatah.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA