Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Virus Corona, WN China Jadi Sasaran Diskriminasi di Rusia

Ahad 23 Feb 2020 21:20 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Seorang perawat memeriksa kondisi pasien corona di sebuah rumah sakit di Wuhan, China. Provinsi Hubei, China, melaporkan 630 kasus baru virus corona. Jumlah ini bertambah dari sehari sebelumnya 366 kasus baru.

Seorang perawat memeriksa kondisi pasien corona di sebuah rumah sakit di Wuhan, China. Provinsi Hubei, China, melaporkan 630 kasus baru virus corona. Jumlah ini bertambah dari sehari sebelumnya 366 kasus baru.

Foto: Xiao Yijiu/Xinhua via AP
Warga Rusia khawatir dengan penyebaran virus Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW --  Obrolan grup WhatsApp pengemudi bus di Moskow sedang ramai. Bukan tentang pemogokan, tetapi apa yang harus dilakukan jika melihat penumpang yang mungkin berasal dari China naik kendaraan mereka.

"Beberapa orang Asia baru saja naik. Mungkin orang China. Haruskah saya menelepon (polisi)? " ujar seorang pengemudi mengirim pesan kepada teman-temannya.

Setelah mendapatkan pesan tersebut, anggota grup lainnya menanggapi. Salah satunya bertanya bagaimana caranya untuk mengetahui seseorang warga China, "Haruskah saya bertanya kepada mereka? " tulisnya.

Pembicaraan tersebut tertangkap dari potongan foto percakapan yang diterima The Associated Press. Sebelumnya, terdapat sebaran foto serupa yang mengungkapkan instruksi dari operator angkutan umum Moskow bagi pengemudi untuk memanggil operator jika warga negara China menaiki bus.

Ketua Serikat Pekerja Transportasi Umum Yuri Dashkov menunjukkan foto dari surel yang dikatakan telah dikirim oleh para pejabat di Mosgortrans. Dia juga menunjukkan tiga foto pajangan surat di dalam bus bertuliskan, "Jika warga negara China ditemukan di dalam gerbong, informasikan kepada petugas pengiriman."

"Bagaimana dia bisa memastikan bahwa dia melihat seorang warga negara China, atau warga negara Vietnam, atau seorang Jepang, atau (seseorang dari wilayah Rusia) Yakutia?" ujar Dashkov.

Sebuah surel yang bocor dikirim oleh perusahaan transportasi milik negara Mosgortrans menjadi keresahan banyak pihak. Namun, perusahaan tersebut menyatakan kalau surel itu palsu.

Sejak mewabahnya virus korona jenis baru di China, Rusia telah mengonfirmasi dua kasus yang terjadi pada warga hCina. Mereka telah dirawat di Siberia, bahkan dinyatakan pulih dengan cepat.

Tapi, ternyata itu tidak cukup. Rusia telah ketakutan dan membuat sikap diskriminatif pada orang yang diduga berasal dari China membawa virus korona yang bisa saja ditularkan dan menyebar.

Pejabat Moskow memerintahkan penggerebekan oleh polisi terhadap hotel, asrama, gedung apartemen, dan bisnis untuk melacak keberadaan orang China yang ada. Mereka juga mengizinkan penggunaan teknologi pengenalan wajah untuk menemukan mereka yang dicurigai menghindari masa karantina selama 14 hari setelah kedatangan di Rusia.

"Melakukan penggerebekan adalah tugas yang tidak menyenangkan, tetapi perlu, untuk pembawa potensial virus juga," kata Walikota Moskow Sergei Sobyanin.

Sobyanin menguraikan berbagai metode untuk menemukan dan melacak orang-orang China yang disetujui sebagai strategi pencegahan virus, termasuk melakukan penggerebekan dan pemantauan di transportasi publik, seperti bus, kereta bawah tanah, dan trem.

Pekerja Metro pun telah diperintahkan untuk menghentikan para penumpang dari China dan meminta mereka mengisi kuesioner. Mereka harus menjawab pertanyaan mulai dari alasan berada di Rusia hingga pernyataan sudah melakukan karantina selama dua pekan. Formulir tersebut juga menanyakan kondisi kesehatan dan alamat tempat tinggal.

"Kami meminta untuk melihat dokumen mereka dan menunjukkan kepada kami dokumen (membuktikan) bahwa jika mereka baru saja kembali dari Cina, mereka telah menjalani masa karantina dua minggu," kata wakil kepala klien dan penumpang layanan Moskow Metro Yulia Temnikova.

Komunitas Cina di Yekaterinburg, sebuah kota yang terletak 1.790 kilometer dari Moskow di Pegunungan Ural setempat juga diawasi. Patroli membagikan masker medis bersama dengan rekomendasi untuk mengunjungi klinik kesehatan bagi penduduk China.

Para pembela Hak Asasi Manusia telah mengutuk penargetan warga negara Cina sebagai bentuk rasisme, bukan strategi pengendalian epidemi yang efektif. "Pencegahan virus serius, baik itu flu atau virus korona baru, harus melibatkan kampanye informasi yang tepat dan bukan diskriminasi orang lain," kata aktivis Alyona Popova.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA