Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

PBB Minta Perhatian Migrasi di Burkina Faso

Senin 24 Feb 2020 03:54 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Tentara berjaga di depan Kedutaan Prancis di Burkina Faso. PBB sebut lebih dari 4.000 orang terpaksa tinggalkan tanah kelahiran di Burkina Faso. Ilustrasi.

Tentara berjaga di depan Kedutaan Prancis di Burkina Faso. PBB sebut lebih dari 4.000 orang terpaksa tinggalkan tanah kelahiran di Burkina Faso. Ilustrasi.

Foto: AP
PBB sebut lebih dari 4.000 orang terpaksa tinggalkan tanah kelahiran di Burkina Faso

REPUBLIKA.CO.ID, OUAGADOUGOU -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan lebih dari 4.000 orang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran setiap hari di Burkina Faso. Hal ini terjadi akibat serangan terhadap warga sipil oleh kelompok-kelompok bersenjata meningkat dalam jumlah dan frekuensi.

Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengatakan lebih dari 700 ribu orang terlantar dalam 12 bulan terakhir. Sekitar 150 ribu dari mereka telah pergi dalam tiga pekan terakhir saja.

"Orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan melaporkan serangan ke desa-desa mereka oleh kelompok-kelompok militan, membunuh, memperkosa, dan menjarah. Karena ketakutan akan serangan-serangan ini, warga telah meninggalkan segalanya untuk menemukan keselamatan," ujar pernyataan UNHCR dikutip dari Aljazirah.

Sebagian besar pengungsi sekarang tinggal di rumah milik komunitas. Namun, UNHCR merasa sulit untuk membantu mereka karena akses yang bermasalah di beberapa daerah karena situasi tidak aman.

Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic menekankan situasi di wilayah seperti Sahel perlu lebih diperhatikan. Wilayah itu digambarkan sebagai tempat krisis yang kurang dikenal dan kurang dipahami.

Burkina Faso berbatasan dengan Mali di barat laut dan Niger di timur. Ketiga negara itu membuat Sahel dihantam oleh situasi keamanan yang semakin memburuk.

Bulan lalu, utusan PBB untuk Afrika Barat mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa serangan telah meningkat lima kali lipat di Burkina Faso, Mali, dan Niger sejak 2016. Lebih dari 4.000 kematian dilaporkan pada 2019.

Sahel menjadi wilayah pertempuran yang diperebutkan karena berada di sekitar tiga negara itu. Berbagai kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Sahara itu mengeksploitasi kemiskinan serta memanfaatkan agama dan etnis untuk perekrutan.

Meningkatnya kekerasan di Sahel telah menambah perasaan tidak aman di antara penduduk setempat. Lembaga ini pun meminta agar para pekerja kemanusiaan diberikan akses yang aman untuk memberikan bantuan.

"Khawatir dengan peningkatan dramatis pemindahan paksa di Sahel, UNHCR mengulangi seruannya untuk melindungi populasi sipil dan mereka yang melarikan diri dari kekerasan," kata pernyataan itu.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA