Selasa 25 Feb 2020 14:20 WIB

Jutaan Siswa di Kashmir Kembali ke Sekolah

Jutaan siswa di Kashmir kembali ke sekolah setelah lebih dari tujuh bulan diliburkan.

Rep: Rizky Jaramaya/Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
Seorang polisi Kashmir berjaga di luar sebuah toko yang tutup di Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, ilustrasi
Foto: AP Photo/Mukhtar Khan
Seorang polisi Kashmir berjaga di luar sebuah toko yang tutup di Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SRINAGAR -- Jutaan siswa di wilayah Kasmir yang dikelola India mulai memasuki sekolah untuk pertama kalinya, setelah diliburkan selama kurang lebih tujuh bulan. Pembukaan kembali sekolah-sekolah di Kashmir pada Senin lalu menandai berakhirnya 'liburan' panjang yang dimulai sejak Agustus 2019, ketika pemerinah India memberlakukan pembatasan komunikasi dan memperketat keamana di wilayah Kashmir.

"Saya sangat senang berada di sini, saya sangat ingin datang ke sekolah. Di rumah, tidak ada yang bisa dilakukan; bahkan berkonsentrasi pada studi pun sulit," ujar Muskan Yaqoob, seorang siswa kelas 12.

Baca Juga

Pada 5 Agustus 2019, pemerintah di New Delhi menghapuskan Pasal 370 Konstitusi, yang memberikan status khusus pada porsi wilayah Himalaya yang dikelola India. Pemerintah India kemudian memperketat keamanan, dan mencabut jaringan komunikasi serta internet untuk mencegah protes.

Sebelumnya, pemerintah tetap mengimbau agar para siswa kembali ke sekolah. Namun, suasana Kashmir yang tidak kondusif membuat para orang tua khawatir dengan keamanan anak-anak mereka di sekolah. Oleh karena itu, para orang tua tidak mengizinkan anak-anak mereka bersekolah dan lebih memilih untuk belajar secara mandiri di rumah. Selain membuka kembali sekolah, Kashimir juga telah mengembalikan jaringan telekomunikasi secara terbatas.

"Hari ini, saya memutuskan untuk mengizinkan anak-anak saya bersekolah karena saya merasa sedikit aman. Saya memiliki telepon yang kini sudah berfungsi kembali, sehingga saya dapat mengetahui tentang keselamatan anak-anak saya," kata Shafat Ahmad, setelah mengantarkan putranya yang berusia 11 tahun dan enam tahun ke sekolah.

Petugas keamanan masih terus melakukan patroli di sejumlah jalan-jalan di Srinagar. Mereka mengenakan peralatan lengkap untuk mencegah aksi demonstrasi. Seorang pejabat senior pemerintah dengan syarat anonimitas mengatakan, pihaknya akan memastikan kelancaran kegiatan belajar mengajar di sekolah.

"Suasana ketakutan telah mereda dan orang tua telah mengambil keputusan untuk kembali menyekolahkan anak-anak mereka. Kami akan memastikan kelancaran fungsi sekolah," ujar pejabat itu kepada Aljazirah.

Kepala Aosisasi Sekolah Swasta Jammu dan Kashmir (PSAK) GN Var mengatakan, penutupan sekolah selama tujuh bulan telah menciptakan kesenjangan besar dalam pendidikan. Para siswa tertinggal pelajaran dan akan berpengaruh dalam ujian mendatang.

"Kehilangan ini tidak bisa diukur. Kami berharap ke depan sekolah tetap lancar dan siswa dapat terus melanjutkan pendidikan seperti anak-anak di tempat lain," ujar Var.

Seorang siswa, Mehwish Rafiq (18 tahun) mengaku senang bisa kembali lagi ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. Namun di sisi lain, dia memiliki ketakutan bahwa suatu hari nanti sekolah dapat diliburkan lagi karena situasi keamanan di Kashmir.

"Ada trauma mental setelah lama tidak terhubung dengan buku-buku," ujar Mehwish. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement