Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Cegah Corona, China Tuntut Rusia tak Berlaku Diskriminatif

Kamis 27 Feb 2020 01:02 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Metro atau kereta bawah tanah di Rusia, Moskow. Warga negara China di Rusia mengalami tindakan diskriminatif dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona tipe baru, Covid-19.

Metro atau kereta bawah tanah di Rusia, Moskow. Warga negara China di Rusia mengalami tindakan diskriminatif dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona tipe baru, Covid-19.

Foto: Republika/Citra Listyarini
Pencegahan penyebaran corona, WN China di Rusia alami tindakan diskriminatif.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSCOW -- Kedutaan Besar China di Rusia telah menuntut otoritas di Moskow untuk mengakhiri apa yang disebut sebagai langkah-langkah diskriminatif dalam pencegahan peyebaran virus corona terhadap warga negara China. Beijing juga menyebut Rusia telah merusak hubungan dan menimbulkan kekhawatiran warga China yang berada di ibu kota Rusia.

Keluhan yang disampaikan melalui surat kedutaan kepada pemerintah kota dan diterbitkan oleh surat kabar Rusia Novaya Gazeta pada Selasa malam (25/2). Surat itu memuat pernyataan yang menyesalkan apa yang disebutnya "pemantauan di mana-mana" terhadap warga negara China, termasuk di transportasi umum di Moskow.

Rusia, yang menjalin hubungan politik dan militer yang kuat dengan Beijing, saat ini tidak memiliki kasus virus corona yang terkonfirmasi. Di lain sisi, untuk sementara waktu, Rusia melarang banyak kategori warga negara China memasuki negara itu.

Pihak berwenang di Moskow juga telah melakukan penggerebekan terhadap kemungkinan pembawa virus, baik terhadap individu di rumah atau hotel, dan menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk menegakkan tindakan karantina. Surat kedutaan besar China mengikuti laporan media lokal yang belum dikonfirmasi bahwa Mosgortrans, yang mengelola jaringan bus, kereta trem, dan trem Moskow dengan layanan yang sangat luas, telah mengatakan kepada pengemudi untuk mencoba mengidentifikasi penumpang China dan memberitahu polisi tentang keberadaan mereka.

"Pemantauan khusus warga negara China pada transportasi umum Moskow tidak ada di negara mana pun, bahkan di Amerika Serikat dan di negara-negara barat," demikian bunyi surat Kedutaan Besar China, tertanggal 24 Februari.

"Mengingat perbaikan dalam situasi epidemiologis di China, penduduk Moskow dan orang-orang China yang tinggal di Moskow akan khawatir dan tidak akan mengerti, dan itu akan merusak atmosfer yang baik untuk mengembangkan hubungan China-Rusia."

Kedutaan mengatakan, mereka meminta pihak berwenang Moskow untuk menahan diri dari apa yang disebutnya tindakan berlebihan. China menyerukan Rusia melakukan "tindakan proporsional dan non-diskriminatif" sebagai gantinya.

Kremlin mengatakan, tidak mengetahui surat kedutaan itu, tetapi Moskow menghargai hubungannya dengan Beijing dan seharusnya tidak ada tindakan diskriminatif terhadap warga negara China. Kementerian Luar Negeri Rusia, pemerintah kota Moskow, dan perwakilan Kedutaan Besar China tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan pada pekan ini bahwa empat orang Taiwan yang berkunjung ke Moskow dijemput oleh polisi dan petugas kesehatan karena mengenakan masker dan dikira sebagai orang China. Mereka kemudian dikarantina secara paksa.

Sejauh ini, Rusia pernah memiliki dua kasus virus korona. Keduanya adalah warga negara China yang telah pulih dan dibebaskan dari rumah sakit.

Asia melaporkan ratusan kasus baru pada Rabu, termasuk tentara AS pertama yang terinfeksi, seiring peringatan AS akan pandemi yang tak terhindarkan, dan wabah di Italia dan Iran menyebar ke lebih banyak negara.

Baca Juga

sumber : Antara, Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA