Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Netanyahu Tolak Sebutan Rasialis dari Bernie Sanders

Kamis 27 Feb 2020 08:08 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Foto: AP Photo/Oded Balilty
Bernie Sanders menyebut Netanyahu rasis dalam debat kandidat presiden AS.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Bernie Sanders salah untuk menyebutnya sebagai seorang rasis, Rabu (26/2). Tanggapan itu muncul setelah Sanders menyatakan dalam debat kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat.

Baca Juga

"Apa yang saya pikirkan tentang masalah ini adalah bahwa dia benar-benar salah. Tidak ada pertanyaan tentang itu," ujar Netanyahu kepada Israeli Army Radio.

Sanders telah mengkritisi kebijakan pemimpin sayap kanan tersebut terhadap Palestina. Dia menggambarkan Netanyahu sebagai seorang rasis reaksioner yang sekarang menjalankan Israel.

Netanyahu mengatakan, dia pun akan tetap bisa mengendalikan keadaan jika pemilihan November mendatang akan memenangkan Sanders sebagai presiden AS berikutnya. Sebagai Perdana Menteri Israel periode terlama, dia telah menghadapi sikap oposisi presiden AS sehingga itu bukan masalah.

"Saya tidak ikut campur dalam pemilihan AS," kata Netanyahu.

Sebelum ini, Netanyahu memiliki hubungan kurang baik dengan Presiden Barack Obama. Presiden sebelum Donald Trump itu membuat kesepakatan nuklir Iran dan kebijakan penyelesaian Israel di wilayah yang diduduki Tepi Barat.

Pemimpin terlama Israel itu sedang menjaga kelangsungan politiknya dalam pemilihan nasional. Israel tiga kali melakukan pemilihan dalam waktu kurang dari setahun setelah pemungutan suara yang tidak meyakinkan pada April dan September tahun lalu.

Selama kampanye, Netanyahu menghindari berkomentar langsung tentang pemilihan AS. Namun, dia memuji Trump sebagai sahabat Israel yang pernah ada di Gedung Putih. Dia mencatat keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian nuklir Iran, mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan memindahkan Kedutaan AS ke kota. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA