Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Pakistan Tutup Sekolah Hingga Larang Perjalanan ke Iran

Kamis 27 Feb 2020 21:55 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Seorang perawat memeriksa kondisi pasien corona

Seorang perawat memeriksa kondisi pasien corona

Foto: Xiao Yijiu/Xinhua via AP
Kemenkes Pakistan mengimbau agar masyarakat tak panik hadapi virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Pakistan mengumumkan menutup sekolah-sekolah di beberapa daerah, Kamis (27/2) waktu setempat. Selain itu, pemerintah Pakistan juga memutuskan menangguhkan penerbangan ke dan dari Iran menyusul penyebaran virus corona baru atau Covid-19 yang dikonfirmasi pertama di Pakistan.

Pihak berwenang Pakistan meliburkan sekolah di provinsi selatan Sindh, termasuk kota terbesar di negara itu, Karachi. Di sana, kasus pertama terkonfirmasi. Kasus virus corona juga di provinsi Baluchistan di barat daya Pakistan yang berbatasan dengan Iran. 

Sementara, Penerbangan Sipil Pakistan mengatakan, akan menunda semua operasi penerbangan dengan relasi Iran mulai Kamis malam hingga pemberitahuan lebih lanjut. "Kami telah memutuskan untuk menutup penerbangan dengan Iran," ujar juru bicara penerbangan Sattar Khokhar kepada Reuters, Kamis.

Baca Juga

Setidaknya, tiga operator Iran menjalankan tujuh penerbangan seminggu ke dan dari Pakistan. Pakistan juga dilaporkan menutup perbatasan dengan Iran pada Ahad lalu setelah wabah di negara tetangga itu diberitakan meningkat. Setidaknya 22 orang meninggal dunia di Iran karena Covid-19 ini.

Pihak pemerintah hingga kini juga masih melacak hampir 8.000 peziarah yang baru saja kembali ke negara dari Iran. Menteri Provinsi Sindh, Murad Ali Shah, mengatakan 28 jemaah yang merupakan bagian dari kasus pertama telah dilacak dan akan dipindai dan dipantau. "Kami akan melangkah ke langkah berikutnya," katanya pada konferensi pers di Karachi.

Dia mengatakan, pemerintah Sindh masih melacak 1.500 orang yang telah kembali ke provinsinya dari Iran pada Februari. Dia mencatat, terdapat total 8.000 peziarah di seluruh negeri.

"Kami menemukan kasus masing-masing dari mereka. Mereka akan menjalani 15 hari pemantauan ketat sebelum diizinkan meninggalkan rumah mereka," ujar Shah. Shah menegaskan kesemua orang tersebut dan siapa saja yang berhubungan dengan mereka harus diisolasi.

Negara Asia Selatan yang berbatasan dengan China dan Iran itu melaporkan dua kasus pertamanya, Rabu kemarin. Kedua orang tersebut diketahui baru saja melakukan perjalanan ke Iran sebagai bagian dari kelompok besar peziarah dari komunitas Muslim Syiah Pakistan. Pejabat kesehatan mengatakan, kedua pasien dalam keadaan stabil.

Kementerian Kesehatan Pakistan mengimbau agar masyarakat tidak panik dalam menghadapi epidemi tersebut. "Kita tidak perlu khawatir. Kita seharusnya tidak membuat kepanikan apa pun," katanya pada konferensi pers, Rabu malam.

Kementerian kesehatan telah meluncurkan kampanye media untuk mendidik masyarakat, dan mendesak mereka bekerja sama dengan pihak berwenang untuk membantu mengidentifikasi setiap kasus yang diduga. Pakistan, seperti kebanyakan negara Asia Selatan, tidak memiliki perlengkapan yang baik untuk menghadapi keadaan darurat berskala besar jika penyebaran virus terus terjadi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA