REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pemeraintah Inggris disebut-sebut bakal memberlakukan kebijakan lockdown hingga akhir Mei nanti. Hal tersebut dilakukan menyusul terus meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 alias Corona.
"Setidaknya pada akhir Mei situasi ini dapat berganti menjadi penanganan yang kurang intensif dan lebih didasarkan pada teknologi dan pengujian untuk lockdown kami saat ini," kata Profesor Matematika Biologi di Imperial College London, Neil Ferguson seperti diwartakan Reuters, Sabtu (4/4).
Berdasarkan data yang diperoleh, pemerintah Inggris mengumumkan bahwa kasus positif Corona di negara tersebut hampir mencapai 42 ribu orang. Dengan tingkat kematian mencapai 20 persen atau setara dengan 4.313 orang.
Kementerian kesehatan setempat mengungkapkan bahwa hingga Jumat (3/4) ada penambahan 708 kasus yang berujung pada kematian. Angka itu meningkat 23 persen jika dibandingkan Kamis (2/4) atau satu hari sebelumnya.
Ferguson memprediksi bahwa puncak kasus Corona di Inggris akan terjadi dalam satu pekan atau 10 hari ke depan. Meski demikian, tingkat infeksi itu juga masih bergantung pada seberapa patuh masyarakat Inggris dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah.
“Ini cukup seimbang pada saat ini karena Inggris dapat memiliki tingkat infeksi yang cukup tinggi selama dari pekan ke pekan jika orang mulai bersosialisasi," katanya.
Virus Corona diketahui juga telah menghampiri Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Mantan menteri luar negeri Inggris itu saat ini tengah berada dalam isolasi meski dia juga masih mengerjakan tugasnya sebagai kepala pemerintahan.