Sabtu 18 Apr 2020 16:06 WIB

65 Tahun Konferensi Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika (KAA) pertama dibuka di Bandung, 18 April 1955.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nora Azizah
Pada 18 April 1955 Konferensi Asia Afrika (KAA) dibuka Presiden Soekarno di Gedung Merdeka, Bandung (Foto: Gedung Merdeka, Bandung)
Foto: Republika/Edi Yusuf
Pada 18 April 1955 Konferensi Asia Afrika (KAA) dibuka Presiden Soekarno di Gedung Merdeka, Bandung (Foto: Gedung Merdeka, Bandung)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 18 April 1955 Konferensi Asia Afrika (KAA) dibuka Presiden Soekarno di Gedung Merdeka, Bandung. Kini, Asia Afrika sudah memasuki 65 tahun.

Persamaan nasib melahirkan persatuan tindakan dan rasa. Demikian pula dengan pergerakan kemerdekaan di antara negara-negara di benua Asia dan Afrika. Persamaan nasib itu mewujudkan solidaritas rakyat Asia Afrika yang lahir 65 tahun silam.

Baca Juga

"Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia-Afrika tidak akan terjamin," ujar Presiden Soekarno pada pidato pembukaan KAA kala itu.

Berdasarkan catatan sejarah Kementerian Luar Negeri RI, dikutip republika.co.id, Sabtu (18/4), KAA disponsori oleh lima negara yakni Burma (Myanmar), India, Indonesia, Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka). Pertemuan ini melibatkan 24 negara lainnya dari Asia dan Afrika yang berlangsung selama sepekan (18 - 24 April 1955).

KAA menghasilkan kesepakatan berupa Komunike Akhir KAA yang di dalamnya memuat Dasasila Bandung. Prinsip-prinsip ini yang populer dikenal dunia sebagai Spirit Bandung.

Satu dasawarsa pascaKAA, sejarah membuktikan KAA bukan saja menjadi perhelatan pertama antar benua bangsa kulit berwarna tapi juga telah meletakkan dasar-dasar semangat multilateralisme yang inklusif dan setara bagi masa depan kerja sama negara-negara di dunia hingga kini. Selain itu, Spirit Bandung telah pula memicu gelombang dekolonisasi di Afrika, menginsiprasi pendirian Gerakan Nonblok, dan bahkan merestrukturisasi keanggotaan PBB.

Enam puluh lima tahun kemudian Spirit Bandung tetap relevan. Prinsip-prinsip inklusivitas, kesetaraan, kerja sama, non-intervensi, perdamaian dunia, dan penghormatan terhadap tatanan hukum internasional yang diusung Sprit Bandung bukan saja hadir sebagai nafas dari diplomasi multilateral tapi juga simbol Bhinneka Tunggal Ika bagi negara-negara berkembang.

Di tengah wabah pandemi Covud-19 saat ini, persamaan nasib yang dulu melahirkan persatuan tindakan dan rasa berupa solidaritas Asia Afrika harus kembali diwujudkan menjadi semangat kerja sama antar bangsa untuk bahu-membahu saling menopang satu sama lain untuk memenangkan perang melawan pandemi global ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement