Kamis 23 Apr 2020 13:53 WIB

Dubes RI Ingatkan WNI di China Waspada Kasus Impor Corona

Djauhari meminta para WNI tetap disiplin atas apa yang sudah dilakukan selama ini.

Kehidupan mulai kembali normal di Beijing, China. Pada Ahad (19/4) jumlah kasus corona baru mencapai titik terendah.
Foto: EPA
Kehidupan mulai kembali normal di Beijing, China. Pada Ahad (19/4) jumlah kasus corona baru mencapai titik terendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun mengingatkan warga negara Indonesia yang masih bertahan di daratan China untuk lebih waspada. Pasalnya, kata ia, terjadi peningkatan kasus impor Covid-19.

"Tolong waspada, tetap disiplin menjalankan apa yang sudah kita lakukan selama ini karena memang di seluruh Tiongkok sekarang ini tinggal 1.600 kasus, tapi dari 1.600 kasus itu ada sekitar 1.500 imported cases," ujarnya dalam rapat koordinasi dengan KJRI Shanghai, KJRI Guangzhou, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) melalui konferensi video, Kamis.

Baca Juga

Dalam acara bertajuk "Dubes Menyapa PPIT" itu, Djauhari juga mengingatkan WNI yang ada di wilayah perbatasan China-Rusia dan China-Hong Kong. Ia meminta agar teman-teman di Harbin (Provinsi Heilongjiang) terus berkomunikasi dengan Atase Pendidikan dan Koordinator Kekonsuleran KBRI Beijing.

"Jaga kesehatan karena imported cases di perbatasan Rusia itu sangat tinggi seiring dengan tingginya kasus di Rusia. Demikian juga dengan di Guangzhou," kata Dubes didampingi Wakil Dubes Dino Kusnadi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Yaya Sutarya, dan jajaran pejabat KBRI Beijing.

Mantan Dubes RI untuk Rusia itu menyebutkan bahwa sampai saat ini ada sekitar 1.700 masyarakat dan pelajar Indonesia yang masih bertahan di China. Sampai sekarang mereka dalam kondisi sehat dan tidak ada satu pun yang terinfeksi Covid-19.

Tidak hanya di Harbin dan Guangzhou, Dubes juga menyampaikan peringatan kewaspadaan tersebut kepada WNI di seluruh pelosok China dan yang sudah pulang ke Indonesia.

"Bagi pelajar kita yang ada di Indonesia, ikuti prosedur kuliah online dengan benar. Demikian juga yang masih ada di asrama kampus di sini. Kalau ada masalah dengan teknis perkuliahan, mungkin bisa disampaikan melalui Atdik dan PPIT," ujarnya.

Pekan lalu China mengeluarkan kebijakan klasifikasi wilayah terkait gelombang kedua wabah Covid-19. Untuk wilayah yang dalam 14 hari terakhir mendapatkan lebih dari 50 kasus baru, maka masuk kategori risiko tinggi. Kurang dari 50 kasus masuk risiko menengah.

Distrik Chaoyang telah ditetapkan sebagai wilayah berisiko tinggi di Beijing. Chao yang merupakan distrik terluas di Beijing banyak juga dihuni warga negara asing. Di sana terdapat kantor perwakilan asing, termasuk Kedutaan Besar RI dan Bank Indonesia, dan kantor-kantor pemerintahan China serta pusat-pusat perbelanjaan terbesar.

Di Chaoyang juga banyak terdapat hotel dan kawasan komersial sehingga dikenal sebagai distrik termahal di China

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement